Isi Dari Riuhnya Kepalaku

    Jika ada pilihan untuk tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya, maka aku akan memilih jalan itu. 

 

Hai, aku perempuan yang sedang merajut kekuatan, meramu doa, juga melapangkan dada agar tetap waras ditengah badai yang selalu menghantam perjalanan kita. Setiap waktu aku mencoba merayu semestaku agar ia meringankan sedikit bebanku untuk tetap berjalan denganmu. Pilu rasanya, ketika sudah sejauh ini langkah yang kutempuh agar kau bisa melebur menjadi satu denganku. Menjadi sebaik-baiknya kita dibawah satu atap yang sama. Kupikir sesulit apapun jalannya masih bisa kutempuh dengan tabah. Tetapi disatu titik aku menyadari bahwa aku manusia. Aku ingin berhenti memaksakan apa yang kurasa sulit untuk disatukan.

 

Aku memang perempuan yang cukup naif. Seperti tidak terjadi apapun namun sebenarnya aku sedang berlari kesana kemari untuk sejenak menenangkan badaiku sendiri. Kau tak paham betul bahwa aku telah berdarah-darah untuk kisah ini. Ribuan kilometer itu terasa semakin jauh ketika kau memaksaku memperjuangkan kisah konyol ini sendiri. Lantas, untuk apa kau & kita slama ini jika aku menghalang badai ini seorang diri?

 

 Muak rasanya harus berperang dengan isi kepalaku sendiri. Membiarkan hatiku meyakini hal yang belum tentu juga diaminkan oleh semestaku. Sedang kau terlalu asyik mencintaiku hingga lupa bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan kita. Ada restu mereka yang harus diperjuangkan agar memudahkan langkah kita nanti. Sadarilah bahwa aku tidak bisa berjalan sendiri untuk ini. 

 

Sekali lagi, jika kutau akan seperti ini jalannya, aku lebih memilih untuk tidak pernah bertemu denganmu. Aku tidak menyesali pertemuan kita. Hanya saja sepertinya aku terlalu memaksakan kehendakku agar kelak bisa kuhabiskan sisa usia ini bersamamu.

Komentar

  1. Mba stefiii ditunggu tulisan selanjutnya 🫶

    BalasHapus

Posting Komentar