Teringat kembali ke masa dimana kerasnya aku memperjuangkan jarak yang pernah ada. Aku memperjuangkan KITA ditengah pedihnya jarak. Sungguh sulit, sangat amat sulit ketika aku harus menahan rindu yang berlebih akibat kejamnya jarak. Tapi.. setidaknya terbesit rasa bahagia dalam benakku, semua tidak akan sia sia karena aku memperjuangkan orang yang kuanggap akan memberiku bahagia. Jarak yang semula kuanggap kejam, kini aku mampu berteman erat dengannya. Karena dia mengajarkanku arti kesetiaan dan bahagiannya cinta dengan perjuangan.
Ratusan kilometer yang terbentang antara rumahku dan rumahmu tak pernah sedikitpun membuatku menyerah. Aku tetap berdiri kokoh memperjuangkan kamu ketika jarak berusaha menerkam kita. Aku tetap mempertahankan rasa dan membunuh racun kejenuhan ketika jarak perlahan mematikan seluruh rasa dalam organ tubuhku. Aku tetap berjuang hingga impian kebahagiaan pertemuan itu terjadi.
Namun.. sebelum semua impian impian indah itu terwujud, kamu memilih pergi dan menyerah memperjuangkan kita. Kamu yang semula membuatku yakin akan hadirnya pertemuan diantara kita, seketika membuatku terdiam tanpa sepatah katapun. Hatiku penuh tanya, namun bibirku hanya terdiam kaku. Aku tak sanggup melontarkan semua tanya dalam hatiku. Mataku yang berusaha menjelaskan kata demi kata dalam hatiku, seakan tertutup rapat oleh lengkungan senyum di bibirku. Aku tak pernah henti mengurai tawa dan mengumbar berbagai kekonyolan agar tak ada yang mampu menerka ada sayatan luka dalam hatiku.
Ketika tengah malam menghampiri, rasa perih itu seakan semakin membabi buta. Aku yang begitu rapuh berusaha mengangkat tubuhku untuk berdiri. Aku berusaha menutup rapat rapat telinga agar tak mendengar jeritan hatiku yang terus berteriak memanggil namamu. Aku bersimpuh lutut dihadapan Tuhan. Dalam sujudku dengan berderai jutaan airmata, aku berusaha menyampaikan jeritan demi jeritan dalam hatiku. Aku telah lumpuh Tuhan. Aku tak punya lagi kaki sebagai tumpuanku berdiri tegak. Aku tak punya lagi lengan yang selalu merengkuh lelahku.
Mencoba bangkit berdiri dan terus berbesar hati menerima kenyataan. Meski tak semudah menoreh tinta diatas lembar kertas putih. Namun aku tetap mencoba bertahan dalam keyakinanku, semua akan indah dalam keajaiban tangan Tuhan. Dan waktu membuatku mengerti, tak ada cinta tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tak ada cinta tanpa luka dan kecewa.
Ratusan kilometer yang terbentang antara rumahku dan rumahmu tak pernah sedikitpun membuatku menyerah. Aku tetap berdiri kokoh memperjuangkan kamu ketika jarak berusaha menerkam kita. Aku tetap mempertahankan rasa dan membunuh racun kejenuhan ketika jarak perlahan mematikan seluruh rasa dalam organ tubuhku. Aku tetap berjuang hingga impian kebahagiaan pertemuan itu terjadi.
Namun.. sebelum semua impian impian indah itu terwujud, kamu memilih pergi dan menyerah memperjuangkan kita. Kamu yang semula membuatku yakin akan hadirnya pertemuan diantara kita, seketika membuatku terdiam tanpa sepatah katapun. Hatiku penuh tanya, namun bibirku hanya terdiam kaku. Aku tak sanggup melontarkan semua tanya dalam hatiku. Mataku yang berusaha menjelaskan kata demi kata dalam hatiku, seakan tertutup rapat oleh lengkungan senyum di bibirku. Aku tak pernah henti mengurai tawa dan mengumbar berbagai kekonyolan agar tak ada yang mampu menerka ada sayatan luka dalam hatiku.
Ketika tengah malam menghampiri, rasa perih itu seakan semakin membabi buta. Aku yang begitu rapuh berusaha mengangkat tubuhku untuk berdiri. Aku berusaha menutup rapat rapat telinga agar tak mendengar jeritan hatiku yang terus berteriak memanggil namamu. Aku bersimpuh lutut dihadapan Tuhan. Dalam sujudku dengan berderai jutaan airmata, aku berusaha menyampaikan jeritan demi jeritan dalam hatiku. Aku telah lumpuh Tuhan. Aku tak punya lagi kaki sebagai tumpuanku berdiri tegak. Aku tak punya lagi lengan yang selalu merengkuh lelahku.
Mencoba bangkit berdiri dan terus berbesar hati menerima kenyataan. Meski tak semudah menoreh tinta diatas lembar kertas putih. Namun aku tetap mencoba bertahan dalam keyakinanku, semua akan indah dalam keajaiban tangan Tuhan. Dan waktu membuatku mengerti, tak ada cinta tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tak ada cinta tanpa luka dan kecewa.
Doh :' sesak hatiku coy
BalasHapussorry buat hatimu makin kretek coy kwk:p
BalasHapus