Setelah kepergianmu beberapa minggu yang lalu, aku masih sendiri. Aku masih berteman dengan bayang bayang kebahagiaan masalalu yang tak mungkin lagi terulang. Aku masih setia mempertahankan yang menurutku menyakitkan. Mungkin terasa sangat tolol ketika aku yang begitu kuat seakan lumpuh karena kepergianmu. Aku yang seharusnya tak perlu terjatuh, pada akhirnya memang harus terjatuh. Bodoh, bodoh, bodoh, dan bodoh itulah aku.
Berselang beberapa hari dari perpisahan kita, aku melihat beberapa tulisan manis yang kau tulis di personal status BlackBerry Messenger mu. Aku pun melihat kebahagiaan disetiap TimeLine Twittermu. Aku turut tersenyum melihatmu yang mungkin telah menemukan sosok yang jauh lebih baik daripada aku. Meskipun aku tau, hatiku tidak searah dengan bibirku. Aku belajar memahami arti kemunafikan disini. Munafik untuk kebahagiaan orang lain. Munafik untuk menutupi ribuan luka dan jeritan hatiku yang seakan tak pernah rela melihatmu bahagia tanpa aku.
Aku tak pernah mengerti dengan kehancuranku saat ini. Kamu yang begitu mudah melepas dan menghancurkan semuanya seakan membuatku terdiam dan penuh tanya, apakah selama ini hanya kepalsuan belaka? Apakah mimpi mimpi yang selalu terucap dari bibirmu hanya sebuah pemanis dalam hubungan kita? Aku masih tak percaya dengan perpisahan kita. Aku masih merasa ini hanya bunga tidurku, ini bukan kenyataan.
Tapi ketika aku kembali tersadar, ternyata ini memang kenyataan. Ini memang kesakitan yang harus kuhadapi kedepan. Aku mencoba melangkah, mencoba berdiri, berjalan ke depan dengan kedua kakiku dan meninggalkan luka di masalalu. Tapi entah mengapa, ketika dipertengahan perjalananku aku kembali harus terjatuh. Aku merasa ini sungguh menyakitkan. Aku harus bersikap munafik seperti apa lagi untuk menutupi lukaku? Aku lelah. Aku ingin kebahagiaan abadi, bukan kesakitan seperti ini.
Detik demi detik, waktu demi waktu, dan hari demi hari kulewati sendiri tanpamu sebagai kekasihku lagi. Aku ingin membuka hatiku lagi untuk seseorang yang mungkin mencintaiku dengan ketulusan. Aku ingin menemukan kebahagiaanku tanpamu. Tapi aku seakan belum sanggup untuk menghapusmu dari setiap ruang dalam ragaku. Hatiku masih menolak untuk mencintai sesosok manusia lain dan menggantimu dengan (dia). Aku masih ingin berjuang, mencintai, dan menyayangi 1 orang yang telah jauh meninggalkanku. Aku tak pernah mengerti dengan hatiku yang meskipun terluka tetapi masih ingin memperjuangkanmu. Seakan terasa sangat kokoh pendirianku untuk memperjuangkan hati yang tak kan mungkin untuk ku miliki kembali. Ada apa dengan aku? Ada apa dengan hatiku? Aku tak mengerti kenapa ini semua terjadi kepadaku.
Apa maksud semua ini tuhan? Apa yang kau mau untukku? Bukankah yang mencintai seharusnya bersatu? Kenapa aku harus kembali kehilangan setelah dulu aku pernah lumpuh karena hal yang sama?
Aku telah memaafkan semua luka yang menyakitiku. Soal mengikhlaskan, mungkin untuk saat ini aku masih belum sanggup. Tapi aku belajar dan berjuang untuk itu. Aku masih meraba raba bagaimana caranya agar hatiku ikhlas atas kepergianmu. Sesulit apapun itu, aku akan perjuangkan keikhlasan hatiku untuk kebahagiaanmu. Mungkin, Tuhan hanya menitipkanmu sementara kepadaku. Sekarang tugasku telah selesai, aku kembalikan kamu pada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang mengatur kebahagiaanmu. Aku akan mengikuti apa yang telah Tuhan gariskan sembari tersenyum menyaksikan kebahagiaanmu (tanpa aku). :)
Berselang beberapa hari dari perpisahan kita, aku melihat beberapa tulisan manis yang kau tulis di personal status BlackBerry Messenger mu. Aku pun melihat kebahagiaan disetiap TimeLine Twittermu. Aku turut tersenyum melihatmu yang mungkin telah menemukan sosok yang jauh lebih baik daripada aku. Meskipun aku tau, hatiku tidak searah dengan bibirku. Aku belajar memahami arti kemunafikan disini. Munafik untuk kebahagiaan orang lain. Munafik untuk menutupi ribuan luka dan jeritan hatiku yang seakan tak pernah rela melihatmu bahagia tanpa aku.
Aku tak pernah mengerti dengan kehancuranku saat ini. Kamu yang begitu mudah melepas dan menghancurkan semuanya seakan membuatku terdiam dan penuh tanya, apakah selama ini hanya kepalsuan belaka? Apakah mimpi mimpi yang selalu terucap dari bibirmu hanya sebuah pemanis dalam hubungan kita? Aku masih tak percaya dengan perpisahan kita. Aku masih merasa ini hanya bunga tidurku, ini bukan kenyataan.
Tapi ketika aku kembali tersadar, ternyata ini memang kenyataan. Ini memang kesakitan yang harus kuhadapi kedepan. Aku mencoba melangkah, mencoba berdiri, berjalan ke depan dengan kedua kakiku dan meninggalkan luka di masalalu. Tapi entah mengapa, ketika dipertengahan perjalananku aku kembali harus terjatuh. Aku merasa ini sungguh menyakitkan. Aku harus bersikap munafik seperti apa lagi untuk menutupi lukaku? Aku lelah. Aku ingin kebahagiaan abadi, bukan kesakitan seperti ini.
Detik demi detik, waktu demi waktu, dan hari demi hari kulewati sendiri tanpamu sebagai kekasihku lagi. Aku ingin membuka hatiku lagi untuk seseorang yang mungkin mencintaiku dengan ketulusan. Aku ingin menemukan kebahagiaanku tanpamu. Tapi aku seakan belum sanggup untuk menghapusmu dari setiap ruang dalam ragaku. Hatiku masih menolak untuk mencintai sesosok manusia lain dan menggantimu dengan (dia). Aku masih ingin berjuang, mencintai, dan menyayangi 1 orang yang telah jauh meninggalkanku. Aku tak pernah mengerti dengan hatiku yang meskipun terluka tetapi masih ingin memperjuangkanmu. Seakan terasa sangat kokoh pendirianku untuk memperjuangkan hati yang tak kan mungkin untuk ku miliki kembali. Ada apa dengan aku? Ada apa dengan hatiku? Aku tak mengerti kenapa ini semua terjadi kepadaku.
Apa maksud semua ini tuhan? Apa yang kau mau untukku? Bukankah yang mencintai seharusnya bersatu? Kenapa aku harus kembali kehilangan setelah dulu aku pernah lumpuh karena hal yang sama?
Aku telah memaafkan semua luka yang menyakitiku. Soal mengikhlaskan, mungkin untuk saat ini aku masih belum sanggup. Tapi aku belajar dan berjuang untuk itu. Aku masih meraba raba bagaimana caranya agar hatiku ikhlas atas kepergianmu. Sesulit apapun itu, aku akan perjuangkan keikhlasan hatiku untuk kebahagiaanmu. Mungkin, Tuhan hanya menitipkanmu sementara kepadaku. Sekarang tugasku telah selesai, aku kembalikan kamu pada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang mengatur kebahagiaanmu. Aku akan mengikuti apa yang telah Tuhan gariskan sembari tersenyum menyaksikan kebahagiaanmu (tanpa aku). :)
Komentar
Posting Komentar