Aku bukan anak lama yang mengenal banyak hal tentang cinta.
Aku tak banyak memahami seperti apa itu cinta. Yah, aku bisa dibilang pemula
dalam lingkup asmara. Ketakutanku pada kaum adam lah yang membuat aku tak
pernah berani mencoba memasuki lingkup ini. Kegagalan orangtuaku menyisahkan
trauma mendalam di ingatan. Aku rasa semua laki-laki sama. Mereka lincah dalam
menggores hati. Sementara wanita? Dengan kelemahannya, mereka hanya mampu
merintih dan menikmati setiap luka. Semua itu membuatku kokoh menutup hati
untuk siapapun. Aku tak ingin sedikitpun mencoba merasakan luka.
Suatu
ketika, aku tak pernah mengerti apa yang berdiam dalam hatiku. Setiap kali aku
memandangi gambar dalam profpict facebookmu, selalu ada getaran berbeda dalam
jantungku. Kamu yang saat itu adalah kekasih sahabatku, mampu membuatku
merasakan hal berbeda dalam hatiku. Terasa sangat bodoh. Perasaan yang mungkin
bisa dibilang cinta seakan membodohi seluruh saraf motorik dalam tubuhku.
Membutakan mataku bahwa yang saat ini menggetarkan jatungku adalah kekasih
sahabatku. Aku bisa disebut sebagai penghianat. Tapi sedikitpun tak pernah
terbesit dalam benakku untuk merebut kebahagiaan sahabat karibku sendiri.
Mungkin ini yang dinamakan ‘Cinta Pertama Dalam Diam’. Tanpa sepatah katapun,
aku memendam kebodohan rasa yang semakin menyiksa jiwa.
Ketika kudengar kabar berakhirnya hubungan mereka, aku
seperti diliputi perasaan bahagia bercampur kecewa. Perasaan bahagia yang
begitu tolol datang dari penyakit nafsu manusia dan perasaan kecewa karena aku merasa
telah berkhianat dengan menyimpan rasa pada kekasih sahabatku. Aku berada pada
posisi yang paling menyakitkan. Antara ingin mengungkap rasa yang menjelma
dihati dan ketakutanku menyakiti sahabatku. Pada akhirnya aku memilih terus
bungkam dan memendam. Aku tak ingin menyakiti siapapun. Meski saat itu, aku
yang merasa tersakiti karna menyimpan rasa yang tak kunjung terungkap.
Lambat laun, semakin berjalannya waktu perasaan itu semakin
membabi buta. Dengan bermodalkan tekat, aku mengungkap sedikit demi sedikit
perasaanku pada mantan kekasih sahabatku itu. Pesan manis di kotak masuk
handphoneku rasanya membuatku melayang jauh diambang rasa bahagia. Sungguh, ini
yang kunanti. Tak bisa lagi kupungkiri, bahwa kamulah satu-satunya manusia yang
‘pertama kali’ menyentuh hatiku. Dan perkenalan singkat kita berakhir dengan
penyatuan tepat di malam penuh cinta, yah.. 14 Februari 2012. Tuhan, beribu syukur kuucap padamu. Ini anugrahmu
yang wajib kujaga. Terimakasih Tuhan, janjiku padaMu tak kan kusayat luka dalam
hatinya.
Satu setengah tahun pun berlalu. Perjalanan yang cukup
dibilang panjang bagi kita para penikmat jarak. Kita yang kerap dihajar rindu,
dicekam jarak, dan dibunuh oleh cemburu terus mencoba mempertahankan kisah
kita. Sampai pada titik lelahmu, kamu yang kuperjuangkan pada akhirnya memilih
menyerah dan pergi meninggalkanku yang mencintaimu begitu dalam. Aku hanya diam
menyaksikan semuanya. Airmata menetes deras tanpa kusadari kehadirannya. Dan
aliran darah yang juga ikut larut dalam luka, menetes tanpa kata henti. Tak
lagi kurasakan hembusan nafas dalam tubuhku. Hanya kata luka yang terus
berteriak lantang dalam hati meski bibirku membungkam segalanya.
Rentan waktu, aku mendengar kabar kisah manismu bersama
gadis impianmu. Dalam senyum yang terurai di bibirku, apakah tak kau lihat ada
beribu luka yang kusimpan disana? Mungkin kamu berfikir ‘yang lalu biarlah
berlalu’ itu mudah. Tapi bagiku, semua terasa sulit tatkala mengingat kembali
bahwa kamulah yang pertama kali dikirim Tuhan untuk menggugurkan rasa takutku
membina sebuah hubungan. Dengan semua ini, salahkah jika aku ‘tak pernah’ rela
melepas kepergianmu? Maafkan aku yang terlalu berambisi mencintaimu. Maafkan
aku yang sampai detik ini tak mampu mengikhlaskan kepergianmu. Aku hanya wanita
biasa sama seperti mereka diluar sana. Kuatku pun punya batas lelah. Hey
jagoan! Semoga dengan tulisan ini kamu memahami satu hal, bahwa kamu menjadi
yang paling berharga dari yang sekedar berharga untuk seorang perempuan yang
pernah kamu tinggalkan. Dan perempuan itu, Aku.:’)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmaksudnya kak? yg lain siapa?._.
BalasHapus