Sekali lagi aku berbicara tentang hati, diam, dan luka. 3
hal yang seakan melekat dalam diriku. Ini sungguh membosankan. Menyiksa batinku
tiada kata henti. Mencoba bermain dengan logika, namun aku terbiasa bermain
dengan perasaan. Tak mudah menggunakan logika dalam hal ini. Sekalipun aku
keras bermain logika agar tak lagi berkutat dengan luka.
Yah.. aku kembali dihadapkan pada rumitnya kisah cinta. Luka
karena masalaluku mungkin belum sepenuhnya mengering. Bahkan ketika ingatan itu
kembali hadir, airmatapun masih setia menemani. Namun, ditengah luka yang
kunikmati aku kembali merasakan degupan aneh dalam jantung ku. Degupan yang
telah beberapa tahun silam pernah kualami ketika aku jatuh cinta. Sungguh aku
tak pernah mengerti apa kemauan hatiku. Bahkan dalam keadaan terluka pun, aku
bisa kembali jatuh cinta. Entah.. mungkin ini sebagian dari rencana Tuhan
untukku. Meski sejujurnya aku tak pernah mengerti apa maksud dari semua ini.
Aku jatuh cinta pada
laki laki yang sebelumnya tak pernah ku kenali. Aku bahkan tak mengerti sosok
dan kepribadiannya. Namun, rasa rasanya dia membuatku kembali pada masa silam
ketika awal mula aku menginjak dunia remaja, yah.. Jatuh cinta. Terlihat sangat
tolol ketika aku jatuh cinta diantara beribu luka yang kurasakan. Aku yang
masih sangat rapuh berselimut duka, kembali di jatuhkan dalam keadaan yang
begitu rumit kupahami. Disatu sisi aku bisa sedikit bernafas lega setidaknya
luka yang begitu perih kurasakan segera berangsur membaik, namun disisi lain
sesak yang begitu dalam juga menghantam hatiku tatkala aku mengerti bahwa aku
jatuh cinta pada kekasih orang lain.
Tuhan.. apa maksud semua ini? Aku merasa berdosa. Aku jatuh
cinta pada laki laki yang bahkan hatinya telah digenggam orang lain. Bukankah apa
yang telah menjadi milik orang lain tak sewajarnya berharap kita miliki? Aku tak
ingin merenggut kebahagiaan orang lain. Tapi hatiku? Entah ini yang kesekian
kalinya aku korbankan hatiku untuk orang lain. Ini tidak menyembuhkan lukaku,
ini menambah goresan dalam hatiku. Namun aku juga tak akan bahagia jika menari
diatas tangisan orang lain. Dan lagi lagi.. aku hanya mampu berdiam. Menyembunyikan
segalanya dibalik tawa. Terlihat seakan dalam keadaan baik baik saja. Meski nyatanya,
aku kembali berkutat pada luka.
Komentar
Posting Komentar