Tak banyak yang mampu ku definisikan bagaimana sosok seorang
laki-laki parubaya yang menjadi suami dari ibuku. Yah.. dia yang seharusnya
kupanggil ayah tak pernah memantaskan dirinya untuk layak dipanggil ayah.
Bertahun-tahun lamanya meski tinggal di satu atap, aku tak pernah mengerti
bagaimana sosok terdalam dari ayahku. Dia yang lebih suka hidup dalam
kesendirian dan tak pernah mau bercengkrama dengan orang lain membuatku sulit
menjelaskan bagaimana pribadi laki-laki itu. Aku ingin sekali mengenalnya jauh
lebih dalam, ingin bercengkrama menikmati setiap momen bersamanya, namun dia
seakan menutup diri untuk siapapun yang mencoba mendalami hidupnya. Aku tak pernah
memahami mengapa ayahku bersikap seperti ini. Apa yang terjadi pada masalalunya?
Apa aku juga harus merasakan yang dia rasakan terdahulu?
Tahun demi tahun terlewati. Bukan perkara mudah melewati
masa-masa dimana aku, ibuku, dan adikku memiliki pemimpin namun kami hidup
tanpa dipimpin. Dia ada, terlihat nyata, namun kehadirannya seakan terasa
abu-abu. Dia tetap menafkahi kami materi walaupun sebenarnya tak pernah cukup
untuk kelangsungan hidup. Namun terbesit rasa kecewa dalam hati kami, yah..
sedikitpun dia tak pernah menafkahi kami kasih sayang lahir dan batin. Mungkin
dalam logikanya, materi adalah bukti nyata bahwa dia mencintai keluarganya. Padahal
tidak semua kasih sayang terhitung oleh materi. Sulit memang ketika kami ingin
dia faham namun dia tak pernah memahami bahwa kasih sayang tidak melulu soal
materi.
Ketika berada diluar rumah mungkin tak banyak yang tahu apa
yang sedang bergejolak dalam hatiku. Mencari kebahagiaan diluar rumah selalu
menjadi pilihanku ketika keadaan rumah tak pernah membuatku merasa nyaman. Yah
sekali lagi.. terkadang terasa sesak di dada ketika aku melihat keharmonisan
seorang ayah dan putri kandungnya yang bercengkrama penuh tawa. Bagaimana
tidak, selama aku membuka mata di dunia, sedikitpun aku tak pernah merasakan
hangatnya kasih sayang seorang ayah meski nyatanya ayahku memang nyata di
hidupku. Dengan senyum yang ku urai di bibirku, aku tak munafik jika aku ingin
memiliki sosok ayah. Lalu muncul tanya dalam hatiku, kapan aku akan merasakan
yang mereka rasakan, Tuhan?
Aku tidak sedikitpun menyimpan dendam atas apa yang selama
ini ayahku perbuat. Namun rasa kecewa itu takkan terukur oleh apapun. Ayahku
seperti merampas apa yang seharusnya menjadi kebahagiaanku. Aku benci ketika
orang lain menanyakan sosok ayahku. Apa yang harus kujelaskan pada mereka?
Sementara aku tak pernah mengenal bagaimana sosok ayahku yang sesungguhnya.
Terkadang dalam lamunan, hatiku seakan terus menuai tanya. Siapa sebenarnya
ayahku? Siapa sosok yang seharusnya layak untuk ku panggil AYAH?. Yah.. Tanya
yang kutahu takkan terjawab namun selalu menghiasi fikiranku.
Ayah.. mengertilah.. aku putri kecilmu yang masih
membutuhkan sosok ayah. Dan aku putri kecilmu, yang tetap mencintaimu meski
dalam balutan kecewa.
Komentar
Posting Komentar