Terlahir dari keluarga yang berbeda dengan keluarga keluarga
lainnya. Terlahir sebagai produk dari keluarga yang mungkin bisa dibilang
hancur. Ini bukan perkara mudah. Terbebani dengan status yang menyakitkan dan
kenyataan pahit yang mungkin tak kan siapapun sanggup untuk terima. Yah..
BrokenHome. Kata ini menyiksa batinku setiap saat. Kehancuran demi kehancuran
menerpa hidupku semenjak kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Luka hati
akibat perlakuan Ayahku pada Ibuku yang sampai detik ini belum terobati, namun
yang tak bisa kuhindari dari ini adalah rasa trauma yang muncul dan melekat
dalam jiwaku.
Kegagalan kedua orangtuaku menyisahkan rasa trauma mendalam
bagiku. Ketakutanku pada sosok laki laki yang sampai detik ini belum mampu
untuk ku gugurkan. Ketakutanku pula untuk menjalin sebuah hubungan yang akan
berakhir menyakitkan seperti yang kedua orangtuaku alami. Ntah aku tak pernah
mengerti mengapa rasa trauma itu mengikatku dengan demikian. Yang aku tau, aku
hanya takut pada kaum adam. Takut pada akhirnya luka yang Ibuku rasakan terjadi
padaku. Takut akan airmata yang akan ku teteskan untuk mereka, meski sebenarnya
mereka tak pernah pantas untuk menjadi sebab dari airmataku.
Sebagai manusia biasa, sebagai seorang anak yang memiliki
rasa normal, terkadang terbesit rasa iri ketika melihat keharmonisan sebuah
keluarga. Keharmonisan sederhana yang terlihat manis, mengharukan, dan yang tak
pernah kurasakan. BrokenHome telah merampas semuanya. Semua kebahagiaan dalam
keluarga yang seharusnya menjadi hakku. Keharmonisan yang berganti peran
menjadi kehancuran. Mengapa harus aku yang merasakan ini?
Aku tak pernah berfikir jalan hidupku akan seperti ini. Kebahagiaan
yang selalu ku idamkan tak pernah ingin berdiam walau sejenak dalam hidupku. Takdir
yang mungkin telah Tuhan gariskan untuk hidupku. Kenyataan yang sanggup atau
tidak harus kuterima. Berusaha menjadi seorang yang tegar, yang mampu bangkit
untuk melihat kedepan tanpa memperdulikan masalalu. Berusaha tabah ketika
banyak orang mencibir status BrokenHome yang melekat dalam diriku. Berusaha
tetap mengurai tawa dihadapan mereka ketika sesungguhnya hatiku ingin menjerit
sekencang kencangnya.
Yah.. ini memang pedih. Ini memang menyakitkan. Namun apapun
itu harus kujalani, meski terkadang rasa lelah pada luka itu hadir dan mencoba
membunuhku. Ini memang telah menjadi kehendak Tuhan. Sekeras apapun aku
menentang jika Tuhan telah berkehendak, tak akan ada manusia yang mampu
melawannya. Belajar menerima keadaan sepahit apapun itu. Tetap bersimpuh lutut
dihadapan Tuhan. Berusaha percaya akan keajaiban tangan Tuhan. Bahagia pada
waktunya.
Komentar
Posting Komentar