Tak banyak yang bisa aku kisahkan tentang bagaimana
sosoknya. Sesosok laki-laki dengan ketulusan dan pengorbanannya yang bagiku
begitu luar biasa. Tentang mengikhlaskan perempuan yang begitu dia cintai untuk
sahabatnya kala itu. Aku mungkin takkan setegar dia jika aku berada dalam
posisinya. Tak bisa kubayangkan sakit yang ia rasakan saat harus melihat
sahabatnya mendekap erat perempuan yang seharusnya menjadi miliknya. Yah..
kehebatannya dalam soal mengikhlaskan. Mungkin sulit bahkan sangat sulit, tapi
dia memilih untuk beranggapan bahwa semua akan baik baik saja. Yang dia tau,
dia hanya ingin melihat perempuan yang dia cintai tersenyum meski dia harus
menyimpan luka memar dalam hatinya.
Lagi lagi tentang kehebatannya menyimpan luka. Ketika
sahabatnya meninggalkan perempuan itu, dia datang dengan tangan terbuka.
Menyediakan bahu untuk tempat meluapkan segala jerit tangis yang saat itu
mendera perempuan tersebut. Dia menjelma sebagai seorang sahabat yang bersedia
menjadi telinga, menjelma menjadi malaikat yang berusaha menghapus setiap tetes
air mata perempuan itu. Sungguh.. masih adakah yang lebih tulus dari seorang
laki laki yang tetap ingin bertahan meski luka memar menyelimuti hatinya?
Sekali lagi ini tentang cinta. Berkali kali dia tegaskan
pada hatinya sendiri bahwa ‘cinta tak harus memiliki’. Melihat seseorang yang
dia cintai tersenyum bahagia, itu sudah lebih dari cukup baginya. Menurutnya
memilikipun rasanya dia takkan membuat perempuan itu bahagia. Karena yang dia
tau, perempuan itu begitu dalam mencintai sahabatnya.
Sampai pada titik dimana dia lelah, muak, kecewa pada
sahabatnya yang menjadi sebab tangis dari perempuan itu. Dia mengikhlaskan
perempuan itu untuk sahabatnya karena dia ingin melihat tawa bukan derai
airmata. Dengan segala keberaniannya, dia mengatakan pada perempuan itu bahwa
yang selama ini mencintai perempuan itu begitu hebat adalah ‘Dia’ bukan
sahabatnya. Meski dalam hatinya berkecamuk, namun dia tetap bersikukuh
mengatakan bahwa dia ingin memiliki perempuan itu. Tak peduli meski resiko yang
akan terjadi kelak. Yang dia tau, dia harus berusaha mengembalikan tawa
perempuan itu.
Salut! Sangat salut! Begitu luar biasa laki-laki yang rela
mengikhlaskan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya. Begitu hebat
caranya mencintai dalam rasa takutnya. Mencintai dalam kebisuan yang tak ingin
ia ungkapkan. Aku rasa tak ada perempuan yang tak ingin memiliki laki-laki
sehebat dia. Fisiknya mungkin tak setampan laki-laki diluar sana, tapi
hatinya.. aku bisa jamin, jauh lebih tampan dari laki-laki sewajarnya. Karena
kebanyakan laki-laki mencintai terhitung logika, tapi kali ini aku bertemu
dengan laki-laki yang mencintai dengan rasa tulus yang begitu luar biasa.
Komentar
Posting Komentar