Dengan dan Tanpamu

Assalamualaikum..

Terimakasih sebelumnya buat kalian yang sering baca postingan aku. walaupun isinya monoton dan terkesan curhat tapi semoga menginspirasi. Selamat membaca..

Bismillah. Kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang polemik yang aku hadapi akhir akhir ini. Jika aku boleh menyerah, aku pasti sudah menyerah. Tapi.. rasanya mustahil buat aku mundur dari setiap problem yang datang silih berganti. Tidak ada kata apapun yang bisa menangkal berbagai masalah ini kecuali hadapi. Sulit? Tentu. Aku tidak ingin munafik bahwa aku baik baik saja menghadapi ini. Terluka parah, bahkan sampai lebur tak bersisa. Berbagai macam masalah datang tanpa jeda. Menguji kekuatanku yang semakin hari semakin pupus. Aku tetap manusia biasa. Menangisi berbagai masalah yang sebenarnya tidak sanggup untuk ku pikul sendiri. Ingin sekali rasanya menyerah, melampiaskan apa yang sengaja ku kubur dalam dalam dihati. Tapi tetap saja, aku tidak bisa. Ini kenyataan. Ini yang harus aku hadapi. Sesulit apapun, pecahan kaca itu harus aku lewati.

Rasanya berbeda ketika aku melewati ini denganmu dan tanpamu. Denganmu, aku bisa tertawa diatas masalah masalah yang berusaha menikamku. Setidaknya aku merasa jauh lebih kuat. Karena kamu menjadi alasan kenapa aku harus tertawa. Dan saat ini aku harus lewati ini tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa tertawa sama seperti saat aku ditikam masalah namun kuhadapi bersamamu? Mustahil. Tapi aku harus tetap tertawa. Walaupun harus kuhiasi wajahku dengan topeng tebal untuk menyembunyikan airmataku dari hadapan dunia. Berat, sulit, menyakitkan, dan berbagai macam kata yang tidak lagi bisa aku ungkap untuk menggambarkan bagaimana rasanya jadi aku tanpamu saat ini.
Ingin rasanya memintamu untuk kembali. Untuk pulang, berbalik arah dan datang untuk memelukku. Tapi aku tidak sejahat itu, sayang. Dalam sakitku, dalam tikaman berbagai macam polemik yang sebenarnya tidak sanggup aku hadapi sendiri, aku tetap memprioritaskan bahagiamu. Aku terlalu ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu terbebas dari belenggu yang memaksamu untuk bertahan bersamaku. Namun, aku juga ingin sekali mengikuti egoku. Aku sudah sampai pada titik dimana aku harus menyerah. Mengangkat kedua tanganku dan berkata “aku sudah tidak sanggup lagi”. Aku merasa ini terlalu sulit. Setelah aku kehilanganmu, berbagai macam masalah datang dan berusaha membunuhku perlahan. Dan celakanya.. aku harus menanggung, menghadapi, dan melewati ini tanpamu.


Aku percaya pada setiap rencana Tuhan untukku. Aku percaya ini bagian dari skenario Tuhan untuk memberiku pelajaran berharga yang tidak aku dapatkan dimanapun. Tapi.. tetap saja aku ingin kamu disini, menemaniku melewati pecahan kaca itu walaupun aku tidak ingin kamu ikut terluka. Kamu senantiasa menjadi kaki saat aku lumpuh, menjadi bahu saat aku ingin bersandar, menjadi telinga saat aku butuh didengarkan, dan menjadi lengan saat aku merasa lelah. Saat ini, tidak ada lagi sesosok manusia yang rela menopangku dengan sabar seperti kamu. Membuatku tertawa saat sebenarnya aku lebih ingin menangis. Menemani setiap langkahku melewati berbagai macam ujian Tuhan untukku. Aku selalu mensyukuri hari dimana aku bisa mengenalmu, melihatmu, mendekapmu, dan mencintaimu. Meski saat ini aku juga harus mensyukuri hari dimana rasa sakit karena kepergianmu itu menghancurkanku hingga lebur.

Komentar