Thanks My Eighteen

Hari ini, 7 desember 2014 tepat usiaku bertambah 1 tahun. Betapa bersyukurnya aku masih diijinkan Tuhan untuk menikmati nafas dunia. Nikmat demi nikmat yang Ia beri selama 1 tahun terakhir tak pernah henti ku syukuri. Airmata, tawa, bahagia, luka segalanya menjadi pelajaran berharga untuk hidupku. Aku tak bisa mendefinisikan apa yang aku rasakan saat ini. Segalanya bercampur menjadi 1. Ntah bahagia atau bahkan sedih. Yang pasti apapun itu, aku tak pernah henti mengucap syukur atas kenikmatan Tuhan yang masih memberiku waktu untuk memperbaiki diri.

Jauh hari sebelum hari ini tiba, ada satu harapan yang tak pernah aku ungkap. Harapan yang mungkin mustahil tapi aku tak pernah berhenti untuk berharap. Iya... kamu kembali. Kamu yang pergi dan berjanji tidak akan kembali. Bagaimana mungkin aku terus berharap akan semua yang mustahil terjadi? Ntah kenapa, rasaku semakin kuat ketika aku berusaha melupakan. Rasaku semakin membabi buta saat aku mencoba sebaja mungkin untuk mengikhlaskan segalanya. Namun, kembali ke bagian awal, aku hanya ingin kamu bahagia. Dengan atau tanpaku sekalipun.

Hari ini, aku berusaha untuk menahan segala airmata yang deras mengalir. Aku tidak ingin hari bahagiaku diwarnai dengan segala macam kepedihan yang tidak seharusnya bertahan terlalu lama. Beberapa orang mengkhawatirkan kondisiku yang masih berantakan, namun aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari aku, juga hatiku. Rentetan doa mengalir disepanjang hari. Sungguh, haru rasanya melihat mereka begitu tulus mendoakan yang terbaik untukku. Rasanya begitu bodoh jika aku menampilkan yang sesungguhnya dari diriku saat ini. Memendam adalah satu-satunya cara untuk membuat mereka beranggapan bahwa aku tidak dalam keadaan terluka.

Lagi, lagi, dan lagi.. seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu menikmati hari ini sendiri. Dengan kebahagiaan yang kuciptakan untuk diriku sendiri. Tidak, ini tidak menyakitkan. Hanya saja sedikit perih rasanya ketika yang harusnya ada menjadi tidak ada bahkan tidak kembali. Beberapa orang selalu mengharapkan gift, birthday cake, dan surprise dihari mereka. Namun tidak dengan aku, aku tidak pernah berhenti berharap agar kemurahan Tuhan untuk mengembalikannya dan mengijinkan aku mencintai sekali lagi. Jujur saja, setelah kepergiannya aku seperti raga tak bernyawa. Berdiam dalam sepi dan berbincang dengan bayanganku sendiri. Meradang dan meronta ingin semua kembali, semua yang tak mungkin bisa kembali.

Yaaaaah.. walau begitu, Terimakasih Tuhan. Kau masih memberiku nafas sekali lagi. Terimakasih untuk 1 tahun terakhir, betapa semua tak pernah henti ku syukuri saat Kau anugerahkan laki-laki terhebat yang sempat menjagaku dan mencintaiku dengan luar biasa. Terimakasih 18 tahunku, apapun yang menjadi harapanku kedepan semoga sejalan dengan harapan Tuhan. Terimakasih single parentku, 18 tahun perjalanan hidupku kamulah malaikat terindah yang dikirim Tuhan untuk mencintaiku tanpa akhir. Dan terimakasih jagoanku, terimakasih pernah mengukir cerita bersamaku. Cerita yang membuatku merasa nyaman berhenti di satu titik dan tidak ingin beranjak lagi. Terimakasih pernah menjagaku, melindungiku, mencintaiku, hingga rela terluka untukku. Darimu aku belajar banyak hal. Tentang bagaimana mengikhlaskan, merelakan, dan tidak memaksakan kehendak. Dan ampuni, jika aku masih saja berharap Tuhan mengembalikanmu dengan cinta yang sama. 

Komentar