Ada hal berlalu yang membuatku terdiam dengan segala sesal.
Hal yang begitu berarti. Hal yang begitu kucintai. Kesalahan masalalu yang
membuat kakimu lalu melangkah pergi dengan tanpa menghiraukan rasaku. Sikap dan
egoku yang mungkin tak sejalan dengan inginmu. Sesuatu yang jauh dari
harapanmu.
Aku menyesal dengan segala sesal. Kepribadianku yang seakan
membuatmu merasa bahwa kamu tak pernah layak bersanding denganku. Meski
sebenarnya bukan seperti itu. Aku yang merasa tidak pernah layak bersanding
denganmu. Aku yang merasa tidak lebih baik dari seseorang di masalalumu. Namun,
kau senang sekali merendah. Dengan segala kesederhanaanmu, kamu merasa tidak
menjadi layak ketika bersamaku.
Langkah kakimu meninggalkan semua cerita kita sesungguhnya
memang menyakitiku. Aku tidak pernah tau apakah kau juga terluka karena ini.
Yang aku tau, kau merasa jauh lebih baik setelah perpisahan kita. Aku yang kala
itu masih saja menyerang karena tak mampu menerima kenyataan, pada akhirnya pun
harus mengakui kekalahan. Aku kalah dengan egoku. Aku kalah dengan segala
kekuranganku. Aku kalah dengan kenyataan yang telah terjadi. Aku kalah dalam
mencintaimu.
Hariku selalu kuisi dengan penyesalan penyesalan yang
tertumpuk tanpa penyelesaian. Aku masih saja mencintaimu. Masih saja
meraba-raba jalan pulang yang tepat menuju hatimu. Dengan doa dan seribu harap,
kau bisa melapangkan jalan pulang untukku. Menerimaku kembali walaupun
sebenarnya bukan aku yang melangkahkan kaki untuk pergi. Namun, aku bisa
menyadari bahwa semua salahku. Aku kehilangan bagian dari denyut nadiku juga
sebab keegoisanku.
Setelah kepergianmu, aku lebih sering berteman dengan senja.
Menikmatinya dengan menutup mata dan kuresapi kehangatan hadirnya. Aku merasa
kau hadir sebagai sesuatu yang kunikmati dengan sederhana. Aku merasa kau ada
disampingku, kembali merengkuhku, kembali mengajakku berjalan menikmati dunia
dengan cara yang kau ingini, sederhana. Berjuta kalimat sederhana terngiang di
kepalaku. Termasuk “Aku mencintaimu sesederhana cinta senja yang selalu setia
menemani surya tenggelam”.
Pergilah.. aku akan baik baik saja bersama penyesalanku.
Kamu cabalo pii :)
BalasHapus