Bukan ingin membuka kembali luka lama, hanya saja tepat di
tanggal ini, hari ini, bulan ini, satu tahun yang lampau, aku harus menelan
pahitnya kehilangan. Kamu pergi dengan berbagai alasan yang memaksaku untuk
mengerti. Berbulan bulan aku bergulat dengan airmata dan luka hanya untuk
berusaha menerima semuanya. Memaksa ingatan untuk tak lagi mengenang. Memaksa
hati juga agar tak lagi mencinta semakin dalam. Namun apa daya, perempuan
sepertiku tak cukup tangguh menerima kenyataan bahwa yang begitu kucinta tak
lagi bersedia mencinta.
Tepat di setahun yang lalu, aku mungkin satu satunya manusia
yang sedang porak poranda. Meradang hingga meronta menahanmu untuk tetap
tinggal bersamaku. Tak sedikit usahaku agar kamu tak segera beranjak dari
sisiku. Namun, mungkin memang Tuhan lebih ingin kita terpisah. Kamu yang dulu
dengan hebat mencinta seakan tak ingin lagi bertahan meski aku meradang.
Apapun yang terjadi setahun yang lalu, sampai habis waktuku
tak akan pernah terlupa. Hari dimana Tuhan menyeretmu jauh dari ragaku. Bulan
dimana aku sedang mencinta hebat hebatnya. Tahun dimana aku benar benar
mengerti, bahwa mencinta tak melulu tentang diperjuangkan namun juga
memperjuangkan. Hanya saja, ditanggal itu, Tuhan menulis takdir yang kembali
menguji kekuatanku. Kamu menjadi satu satunya titik terlemahku. Tak ada pria
yang sudi mencintaku sepertimu. Tak kenal balas meski sesungguhnya juga ingin
sekali dibalas.
Terimakasih, karenamu, aku belajar banyak hal yang mungkin
tak kupelajari di bangku sekolahku. Aku mengerti bahwa perihal tulus adalah
yang tak mengenal balas apapun. Perihal kehilangan adalah menjaga dengan
sepenuh hati yang masih tetap bertahan. Dan perihal mencinta adalah tak melulu
tentang hebatnya rasa namun juga tentang bertahan dalam keadaan sesakit apapun.
Hari ini, mari kita mengenang yang telah hilang. Tak perlu berusaha menyatukan
yang telah patah, biar saja yang patah menyatu ditemani waktu. Terimakasih
banyak untuk kenangan yang selalu ingin kukenang. Tak lagi ingin memupuk harap
untuk kamu segera pulang. Namun jika rindu tak mampu kau selesaikan sendiri,
pulanglah. Dekapku masih bersedia menerima tubuhmu kembali.
Komentar
Posting Komentar