24 Agustus, Setahun Silam

Bukan ingin membuka kembali luka lama, hanya saja tepat di tanggal ini, hari ini, bulan ini, satu tahun yang lampau, aku harus menelan pahitnya kehilangan. Kamu pergi dengan berbagai alasan yang memaksaku untuk mengerti. Berbulan bulan aku bergulat dengan airmata dan luka hanya untuk berusaha menerima semuanya. Memaksa ingatan untuk tak lagi mengenang. Memaksa hati juga agar tak lagi mencinta semakin dalam. Namun apa daya, perempuan sepertiku tak cukup tangguh menerima kenyataan bahwa yang begitu kucinta tak lagi bersedia mencinta.

Tepat di setahun yang lalu, aku mungkin satu satunya manusia yang sedang porak poranda. Meradang hingga meronta menahanmu untuk tetap tinggal bersamaku. Tak sedikit usahaku agar kamu tak segera beranjak dari sisiku. Namun, mungkin memang Tuhan lebih ingin kita terpisah. Kamu yang dulu dengan hebat mencinta seakan tak ingin lagi bertahan meski aku meradang.

Apapun yang terjadi setahun yang lalu, sampai habis waktuku tak akan pernah terlupa. Hari dimana Tuhan menyeretmu jauh dari ragaku. Bulan dimana aku sedang mencinta hebat hebatnya. Tahun dimana aku benar benar mengerti, bahwa mencinta tak melulu tentang diperjuangkan namun juga memperjuangkan. Hanya saja, ditanggal itu, Tuhan menulis takdir yang kembali menguji kekuatanku. Kamu menjadi satu satunya titik terlemahku. Tak ada pria yang sudi mencintaku sepertimu. Tak kenal balas meski sesungguhnya juga ingin sekali dibalas.

Terimakasih, karenamu, aku belajar banyak hal yang mungkin tak kupelajari di bangku sekolahku. Aku mengerti bahwa perihal tulus adalah yang tak mengenal balas apapun. Perihal kehilangan adalah menjaga dengan sepenuh hati yang masih tetap bertahan. Dan perihal mencinta adalah tak melulu tentang hebatnya rasa namun juga tentang bertahan dalam keadaan sesakit apapun. Hari ini, mari kita mengenang yang telah hilang. Tak perlu berusaha menyatukan yang telah patah, biar saja yang patah menyatu ditemani waktu. Terimakasih banyak untuk kenangan yang selalu ingin kukenang. Tak lagi ingin memupuk harap untuk kamu segera pulang. Namun jika rindu tak mampu kau selesaikan sendiri, pulanglah. Dekapku masih bersedia menerima tubuhmu kembali.

Komentar