Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menjalin cerita dengan seseorang
yang raganya ratusan kilometer dariku. Awalnya aku menganggap semua mudah sebab
bagiku segala sulit yang dilandasi cinta akan terasa mudah. Namun, semua tak
sama dengan persepsiku. Rindu yang berlebih selalu menjadi penyulut pertengkaran.
Sulitnya pertemuan juga menjadi puncak problematika dalam setiap pertengkaran
yang terjadi. Kepercayaan terkadang goyah ketika logika tak lagi sejalan dengan
hati. Setiap hari, aku hanya terus berusaha menenangkan diriku untuk tak
berfikir negatif tentangnya.
Sampai pada akhirnya, aku kehilangan. Dia pergi dengan
alasan jarak. Dia menyerah dengan yang berusaha mati-matian kupertahankan. Banyak
hal yang dia ungkap ketika perpisahan kita. Dia mengakui banyak hal yang dia
lakukan tanpa sepengetahuanku. Saat itu, aku bukan hanya tercengang namun juga seperti
tak sanggup lagi menahan segala perih yang merobek hati. Aku yang berusaha
menjaga hati pada akhirnya dipermainkan oleh hati. Bagaimana mungkin aku akan mengulang
sakit yang sama denganmu?
Beberapa hari kedepan aku dan kamu yang terbiasa bersama
juga akan diuji oleh jarak. Kali ini memang tidak dalam jangka waktu yang cukup
lama. Namun, aku seperti diingatkan kembali oleh lukaku beberapa tahun yang
lalu. Dalam hati ketakutan demi ketakutan selalu menghantui. Mengingat aku yang
terlanjur takut untuk bermain dengan jarak kembali. Aku hanya tak ingin apapun
yang pernah terjadi dan ku kubur dalam-dalam akan terjadi kembali.
Ingin rasanya egois, melawan, dan menentang semuanya. Aku
takut dengan kisah kita kedepan jika aku masih saja berdiri dengan pendirianku.
Aku tak ingin egois, sungguh. Namun, traumah yang tertinggal di kepalaku
membuat aku tak ingin lagi mendengar apapun tentang jarak. Bukan aku tak
percaya, mengertilah.. Ini tidak akan pernah mudah bagiku setelah apa yang
terjadi di masalalu. Aku takut dengan jarak, kehilangan, dan penghianatan
setelahnya. Aku tak ingin hatiku harus patah kembali. Aku takut dengan rindu
yang seringkali menyulut pertengkaran. Aku takut dengan semuanya.
Aku bukan sengaja tak memberitahumu perihal ini. Aku tak
ingin terlihat egois di hadapanmu meski hatiku memaksa ingin sekali egois. Aku lebih
ingin kamu menjadi pria yang berbakti. Tak perduli aku yang sungguh tak bisa
melawan ketakutanku sendiri. Dan setelah semua yang terjadi, salahkah jika aku
tak ingin jarak itu membentang diantara kita? Adakah kesalahan perihal
ketakutanku pada jarak?
Komentar
Posting Komentar