Sejak awal aku tidak pernah memupuk penyakit hati padamu. Meski kehadiranmu tak jarang menimbulkan perih tersendiri bagiku. Aku yang kala
itu hadir sebagai kekasihnya, tak khayal membuatmu semakin membabi buta.
Kamu tak lantas pergi, diam dengan cinta dan penyakit hati.
Segala cara kamu lakukan hanya untuk mencari celah masuk ke dalam hati dan kehidupan kekasihku.
Tak perduli bagaimana gores perih mengiris hatiku kala itu. Yang kamu tau,
aku dan kekasihku harus berpisah untuk memenuhi hasratmu memiliki kekasihku.
Aku tidak pernah sedikitpun membencimu.
Aku selalu berusaha melapangkan hatiku agar
tak semakin rapuh melihat usahamu merebut kekasihku. Aku menyadari,
bahwa rasamu tak pernah salah. Tuhan menciptakan hati untuk saling mencintai sesama lain.
Seperti halnya yang kamu rasakan hari ini. Kamu mencintai pria yang
sejatinya telah mencintaiku, menjadi milikku. Aku tak berhak mematahkan rasamu.
Sebab aku tau, rasa itu hadir juga tanpa keinginanmu. Tuhan ingin membuat hatimu lebih perasa.
Merasakan cinta seperti sewajarnya. Namun, sadarkah ketika cintamu menyakitiku?
Aku mungkin diam,
bersikap seakan aku baikbaik saja. Aku tak ingin lebih banyak bicara perihal ini. Aku tak
tau bagaimana caranya mengakhiri ini semua. Kekasihku yang
semakin hari semakin mengacuhkanmu terkadang melukaiku. Bagaimana tidak?
Ketika kekasihku tak menghiraukan keberadaanmu, akulah satu-satunya manusia yang
menjadi sasaran terbaik kebencianmu. Tak perduli apapun caranya, kamu hanya ingin melampiaskan sakitmu karena kekasihku,
padaku.
Sampai akhirnya aku kelelahan.
Memberanikan diri menyampaikan bagaimana hatiku ketika kamu berusaha merenggut kekasihku.
Ntah kamu akan perduli ataupun sebaliknya. Aku hanya terlalu lelah dihajar oleh sikapmu.
Dan hingga detik ini aku masih saja percaya, kamu perempuan cantik dengan latar belakang
yang baik pula. Akan ada pria baik yang membalascintamu di luarsana.
Tak perlu khawatirkan kekasihku. Semampuku,
dia akan kucintai meski cintaku tak sehebat cinta yang kamu miliki. Percayalah, aku tak berusaha mengusirmu dari kehidupan kekasihku.
Aku hanya membiarkanmu selangkah untuk mundur dan mencari yang
segalanya lebih dari kekasihku. Dan semoga ketika kamu telah menentukan pilihan yang
tepat, tidak akan ada “dia” seperti saat kamu ditengah aku dan kekasihku.
Komentar
Posting Komentar