|
D
|
alam hidup tidak
ada sebuah kebetulan. Semua telah terencana dengan rapi oleh tangan Tuhan.
Termasuk perpisahan kedua orangtua ku. Kufikir tidak ada seorang anak yang
mendambakan keluarga seperti ini. Jauh dari kebahagiaan bahkan kedamaian dalam
hidup. Sekalipun sebisa mungkin melapangkan dada untuk berpasrah pada Tuhan,
namun semua tak mampu mengingkari yang telah menjadi luka. Memaafkan mungkin
mudah tapi tidak dengan melupakan. Setiap memori masih jelas tergambar di
kepalaku. Seperti apa riuhnya pertengkaran atau bahkan bagaimana alurnya hingga
perpisahan itu terjadi. Yaah.. semua masih jelas terekam meski aku telah
berusaha melupakan semuanya.
Beberapa tahun yang lalu, aku mungkin telah berusia remaja namun belum
cukup dewasa untuk menyetujui perpisahan keduanya. Aku yang kala itu tidak tahu
harus mengaduh pada siapa, pada akhirnya harus mengiyakan semuanya. Aku hanya berfikir
jika perpisahan adalah jalan terbaik agar aku tidak harus melihat pertengkaran,
so why not? Toh mereka tetaplah malaikatku. Aku tidak akan kehilangan salah
satu diantara mereka. Aku mencintai mereka lebih dari apapun dalam hidupku.
Tidak perduli sebrengsek apapun mereka di mata khalayak. Mereka tetaplah dua
jiwa yang pernah dipersatukan oleh Tuhan untuk menghadirkanku di dunia.
Bagaimanapun aku tidak bisa membenci, meski aku tak pernah bisa berdamai dengan
kenyataan yang ada.
Telah banyak waktu kuhabiskan untuk melewati semua permasalahan yang
datang silih berganti semenjak perpisahan itu terjadi. Ekspektasiku di awal tak
sesuai dengan akhirnya. Setelah perpisahan, aku masih merasakan sengitnya
hubungan diantara mereka. Tak ada titik terang untuk kedamaian. Masih jelas
terasa dinginnya perselisihan mereka. Segala yang seharusnya tidak kutelan
sendiri, menjadi makananku sehari-hari. Ini bukan lagi sulit, namun juga sangat
berat. Ingin rasanya lari dari setiap permasalahan yang ada, namun aku bukan
seorang pengecut. Siap atau tidak, sanggup atau tidak, aku harus menghadapinya.
Terlintas dalam benak, ingin rasanya melihat keduanya berdamai meski
hanya sekejap waktu. Meredakan ego, menyikapi semua dengan hangat, tidak untuk
mereka namun untukku. Aku adalah benteng bagi kedua adikku. Aku tidak mungkin
melimpahkan ini pada mereka. Mereka belum cukup mengerti setiap versi yang
kedua orangtua kami perdebatkan. Sesekali aku ingin melihat keduanya berdamai
agar aku juga mampu berdamai dengan kenyataan yang ada. Namun, ego masih saja
menjadi racun yang terus membakar hati setiap kali mereka bersinggungan.
Perpisahan yang awalnya kupikir menjadi titik terang, haruskah menjadi noda
gelap seumur hidupku? Bisakah kalian berdamai hanya untuk kami? Sungguh.. kami
masih saja sulit berdamai dengan kenyataan. Jangan bunuh kami perlahan dengan
perdebatan sengit yang selalu menyeret dan memaksa kami harus memilih satu
diantara kalian. Kami tidak butuh apapun, berdamailah.. agar kami juga bisa
berdamai dengan kenyataan.
Komentar
Posting Komentar