Mama



Assalamualaikum.. seperti biasa saya ingin berbagi cerita tentang apa yang saya alami hari ini. Yaah.. mungkin isinya terkesan monoton ataupun curahan hati, namun semoga menginspirasi banyak pembaca.

Hari ini, rasanya tak cukup untuk saya mengucap syukur pada Allah SWT yang mana ia tak pernah mempersulit jalan rezeki bagi hambanya. Setelah sekian lama kehidupan saya terpuruk, akhirnya hari ini ibu saya diberi pekerjaan oleh keluarga teman dekat saya. Pekerjaan yang insyaallah halal bagiNya untuk ibu saya. Meski dengan jarak ratusan bahkan ribuan kilometer dari rumah yang hari ini saya dan keluarga tinggali. Namun, semuanya tak mengurangi rasa syukur saya padaNya.

Diantara gemuruh bahagia, terselip rasa sesak yang cukup menganggu dalam hati saya. Yaah.. bagaimana tidak, sebelumnya saya tidak pernah terpisah ratusan kilometer dengan ibu saya dalam jangka waktu yang cukup lama. Meski usia saya bukan lagi balita, namun saya sudah terbiasa hidup disamping ibu saya. Karena sebelum perceraian terjadi sampai putusan pengadilan agama resmi memisahkan ibu dan ayah saya berpisah, saya terbiasa hidup dengan ibu dan adik saya. Ada atau tidaknya ayah bagi saya tak berpengaruh besar, sebab saya hanya memiliki ibu dalam hidup saya. Oleh sebab itu, saya merasa ini sedikit sulit namun ini yang terbaik menurutNya.

Dan setiap kali saya menatap ibu saya, saya tak pernah mampu menahan airmata yang jatuh tanpa keinginan saya. Saya tak mampu membayangkan betapa sulitnya dia berjuang untuk menafkahi saya dan kedua adik saya. Setelah perceraian terjadi, bahkan ayah saya tak lagi menafkahi kami, semenjak itu pula saya melihat seberapa keras ibu saya kesakitan kesana kemari mencari pekerjaan hanya agar saya dan kedua adik saya tak harus putus sekolah. Saya rasa, tak banyak seorang ibu yang mampu melakukan ini untuk anaknya. Jalan apapun dia tempuh dengan harap dimasa depan anak-anaknya hidup jauh lebih baik darinya.

Setiap malam, sesak itu semakin membabi buta mengingat jarak yang harus ditempuh agar kami bisa bertemu nantinya. Ini bukan perihal seberapa tinggi ketergantungan saya pada ibu, mungkin karena saya merasa saya hanya memiliki ibu. Sebab itu pula rasanya sulit ketika harus melepaskannya jauh dari raga saya. Namun, kembali pada tujuan awal bahwa perginya jauh disana hanya agar saya dan kedua adik saya bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Dia menggantungkan harap agar apa yang dia alami hari ini tak perlu anak-anaknya alami di masa depan. 

Sulit bagi saya menggambarkan apa yang saya rasakan hari ini. Meski berat, saya masih tetap bersyukur pada Allah SWT karena ia masih membukakan pintu rezeki bagi kami. Saya selalu berdoa agar Allah SWT senantiasa mempermudah jalan ibu saya mencari rezeki, memberinya kesehatan, dan umur yang panjang. Karena suatu hari, ketika cita-cita saya telah tercapai, satu-satunya orang yang ingin saya peluk tubuhnya dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, itu ibu saya.

Komentar