Sejak awal, aku tidak begitu setuju dengan cara ibumu mencintaiku. Aku tidak cukup faham apa maksud ibumu dibalik kebaikannya. Ntah karena dia terlalu menginginkan seorang anak perempuan dalam hidupnya, aku tak tahu. Tidak ingin berprasangka buruk, hanya saja aku tidak pernah mengerti cara membalas kebaikannya padaku. Terlepas dari itupun, aku menemui ketakutan dalam sudut hatiku. Aku dihantui rasa takut yang tak berujung. Bukan akan kita, namun akan ada beberapa hati yang akan membenciku melihat cara ibumu mencintaiku. Aku tak berhalusinasi, kenyataan membuatku merasa hidupku memicu dengki dalam diri orang lain.
Semakin lama kisah kita tak cukup mudah untuk dilalui. Terjal demi terjal terkadang membuatku kelelahan. Bukan rasaku berkurang, hanya saja aku terlalu lelah dihajar setiap kebencian yang menginginkan aku untuk pergi. Aku berusaha tetap ada meski beberapa menginginkan aku tiada. Cinta ibumu yang membabi butapun semakin menimbulkan kebencian yang sama. Mengundang banyak dengki yang tak seharusnya ada. Lalu, salahkah jika aku melepasmu untuk mematikan setiap butir benci yang menggerogoti hati?
Masalalu telah memberiku pelajaran berharga untuk tidak mengulang sakit yang sama. Kita mampu melewati ini, namun tidak dengan aku. Dukungan yang awalnya terus berbisik ditelinga kini telah tiada. Jangan tanya kemana, benci telah memakan setiap dukungan yang selama ini menguatkanku. Aku perempuan biasa, berjuang semampuku untuk menghancurkan setiap kebencian yang ada. Memperbaiki segala yang terlihat tak baik. Mengalah meski sebenarnya bukan aku yang salah. Berusaha tetap mencintai meski keras dibenci. Namun mengertilah.. Aku hanya tak ingin kehadiranku menjadi duri ditengah keluargamu. Menjadi lakon disetiap permasalahan yang ada. Aku datang untuk mencintaimu, juga mencintai mereka yang mencintaimu.
Aku bukan pecundang yang akan kalah disetiap tantangan. Namun, ibuku mengajarkanku untuk tak memaksakan apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikku. Jangan ragukan rasaku, bertahan sampai pada titik ini bukan perkara mudah. Lelahku terabaikan demimu, untuk mendampingimu meski aku tak munafik ini menyakitiku. Aku berperang dengan hati untuk tetap bertahan selama ini. Namun aku manusia biasa. Kesabaranku berbatas meski rasaku tidak. Fahami ketika aku melepasmu ada yang sebenarnya tak ingin kulepaskan. Bukan perihal seberapa banyak ibumu mencintaiku, seberapa berharga materi yang dimiliki orangtuamu. Ini perihal rasa, yang tak mampu dipatahkan oleh manusia. Meski nyatanya aku harus patah untuk melihatmu bahagia. Lepaskan, agar aku mampu melepasmu.
Komentar
Posting Komentar