Temui Aku Dalam Tawanya

Jemariku seperti kaku saat aku ingin melepaskan segala yang membumbung dihati untuk kucurahkan dalam tulisanku. Ntah apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari terakhir dalam hidupku. Aku hanya menemukan sedikit cahaya yang membawaku keluar dari gelap yang selama ini menahanku. Aku bertemu dengan manusia yang juga berhasil memecah tawa dalam sepiku. Hingga aku lupa, tawa yang ia hadirkan padaku adalah tangis yang ia beri pada orang lain.

Seketika hidupku semakin gelap. Tak ada sedikitpun cahaya yang membawaku kembali menemukan jalan menuju terang. Aku terpaku dalam lorong sepi. Mendiami hati yang tak kunjung menemui bahagiaku sendiri. Sampai pada detik terkonyol, aku meronta, meradang sendiri. Ego berhasil mengelabuhi isi kepalaku untuk mempertahankan cahaya yang berhasil membawaku keluar dari gelap. Aku terlihat seperti manusia terbodoh yang hanya ingin bahagia tanpa memperdulikan patahnya orang lain. Namun, pada akhirnya hati berhasil mendinginkan ego yang semakin membabi buta.

Aku berjalan menemui sebuah kaca dan menatap diriku disana. Aku melihat senyum yang kutarik paksa di bibirku. Akupun melihat tatapan kosong dalam sudut mataku. Aku menemui seorang pengecut yang sedang menertawakan dirinya sendiri. Selangkah untuk mundur dan mengalah pada perempuan yang tak ia kenali sama sekali. Perempuan yang juga meronta untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Pilu rasanya, namun aku tak mampu jika terus menjadi sebab tangis bagi orang lain.

Dan malampun semakin larut, aku membiarkan diriku menangis sekencang kencangnya dengan harap agar tak ada airmata di keesokan hari. Aku tak ingin melihatnya berberat hati padaku. Merasa semua yang terjadi sebab kesalahannya. Sungguh, ini bukan aku. Aku melepas dan membiarkannya menemui bahagia lain selain bersamaku, meski pada akhirnya aku yang harus patah. Sebab ini mungkin adil bagiku, namun tidak bagi orang lain. Aku mengalah agar tak semakin banyak luka yang tergores karenaku. Biar aku saja yang terluka, jangan dia.

Hingga suatu hari, saat semua telah kembali seperti sedia kala, maka kamu akan mengerti. Bahwa untuk mencintai, harus ada yang terluka disana. Dan jika kamu merasa rindu padaku menyiksa, dekap dia. Dan temui aku, dalam tawanya.

Komentar