Secarik tulisan untukmu, perempuan yang pernah meronta untuk
menggenggam kembali seseorang yang telah bersamaku. Bukankah telah kulepaskan
dia untuk kembali padamu? Belumlah cukup bahagia yang kuserahkan untukmu? Hingga
kamu masih saja mengais ngais kesalahanku. Untuk apa lagi kamu menghancurkan
hidupku? Sudahkah kamu dapatkan apa yang telah kamu inginkan? Apa segalanya
belum cukup untuk melengkapi kebahagiaanmu?
Sejak kutau dia kembali padamu, aku memilih bungkam. Tak ada yang perlu
kujelaskan perihal rasa sakit. Sebab bagiku, dengan kurelakan perginya sudah
cukup untuk mengembalikan tawamu. Kulepaskan yang belum sempat tergenggam. Jika
kamu fikir ini mudah, bisakah kamu berdiri di sini? Ditempatku? Mampukah bagimu
merelakan manusia yang telah kau beri hatimu? Sungguh, rasakan betapa ini perih
mengiris dada. Namun kurelakan perginya untukmu, sebab hatiku selalu pilu mengetahui
caramu meronta agar ia kembali padamu.
Malam demi malam telah kulewati setelah kepergiannya. Kulihat wajahmu
kembali berurai tawa. Dan akupun bahagia. Tidak ingin munafik bahwa perih masih
ada, namun kurasa aku telah melakukan yang seharusnya. Kutarik senyum terbaik
di bibirku agar hatiku rela. Kuikhlaskan segala bahagia yang baru saja kurasa.
Sudahlah, bukankah hidupmu telah cukup untuk disebut bahagia? Sibuklah dengan
cinta yang kurelakan itu. Bahagialah dan jaga hatinya. Jangan lagi sibuk untuk
menghancurkanku dari segala arah. Aku telah hancur setelah kurelakan dia. Sudah.
Cukup. Aku sedang mengais bahagiaku yang lainnya. Aku tidak akan menyentuh
hidupmu, hidupmu kalian. Tenanglah, tak perlu khawatirkan apapun. Sebab aku
telah mengikhlaskannya dengan ikhlas untukmu, padamu.
Komentar
Posting Komentar