Masih Tentang Pilunya Pagi

Ini tentang pagi, tentang sang surya yang terbit menyengat di ufuk timur. Dengan tetes air di ujung daun sisa dinginnya rintik semalam. Dia masih hangat untuk ditatap dengan senyuman juga dinikmati dalam kekalutan. Dan pagiku, masih tentangmu.

Mungkin ini sedikit pilu namun tak akan membuatnya berlarut. Kurentangkan lenganku sembari menutup mata, kunikmati dalam dalam hangat yang merasuk dalam jiwa. Juga kuceritakan perihal sesak rindu padanya, rindu yang tak seharusnya ada untuk kurasa.  Hujan semalam masih terasa pilu dari semenjak hatiku patah kala itu. Tawa renyahnya diujung malam yang tak lagi kudengar juga masih kurasa perih meski sesungguhnya tak ingin kudengar lagi.  Rintik demi rintik yang tenang di luar kamarku semakin memilu ketika ternyata kutemui hatiku yang masih saja tak mampu.

Dan ketika pagi tiba, ingin rasanya kulepas segala yang pilu padanya. Kucari damai dalam setiap sinarnya yang hangat. Kulepaskan pula dingin semalam yang berhasil membekukan tubuhku. Tanpa sadar, kutemui dia dalam hangat sang surya. Aku melihatnya tersenyum hangat padaku dan rasanya semakin pilu. Namun sudahlah, tak ingin kutemui sosoknya dalam apapun. Sebab aku tak ingin mematahkan hatiku lebih dari ini.

Yaaah.. pagiku masih saja pilu. Meski telah kucoba melepas yang masih terasa sesak di dadaku. Pada akhirnya pun aku menyadari bahwa memang tak mudah melepas yang belum sempat tergenggam. Jatuh pada cerita yang memaksaku untuk mengalah dan mengikhlaskan yang tak mudah. Namun aku percaya, meski malamku terasa beku, pagiku akan tetap hangat walau pilu.

Komentar