Bahagialah, Hatiku Telah Mati Setelah Kepergianmu

Pada hari-hari biru yang kulewati tanpamu, aku menemukan beribu kekuatan untukku berdiri kembali menemui aku sebelum kau datang dalam hidupku. Aku berfikir bahwa aku akan semakin terlihat bodoh jika terus menerus meratapimu yang dengan mudah meninggalkan segala rasa yang terlanjur ada. Disana, kamu sedang bermain dengan sesuatu yang kau sebut bahagia. Sedangkan aku? Apa yang terlintas dalam benakmu tentangku setelah kau pergi? Apakah aku akan merasakan hal yang sama sepertimu? Tentu saja iya. Akupun bahagia, namun dengan jalan yang tak mudah.

Kau tahu? Aku harus melewati segala cacian mereka yang tak sedikit menyudutkanku. Mereka yang mengolah mindset mereka menjadi hina terhadapku. Aku, meninggalkan orang lain untuk mencintaimu. Kau fikir aku sebodoh itu? Tidak. Aku masih berhati, aku masih bernurani. Kau pun tahu apa yang sedang mengguncangku dengannya kala itu. Dan kau pun mengerti bahwa tak semudah itu aku melepaskannya. Jika hari ini kau bertanya apakah kau berhasil memutar balik semuanya, tentu saja iya. Kau berhasil membuatku terlihat menjadi manusia terbodoh yang pernah meninggalkan orang lain untukmu. Sedang aku merasa tak pernah melakukan itu.

Lalu, untuk apa kau memutar balik semuanya? Untuk mencari pembelaan atas perlakuanmu meninggalkanku tanpa sebait katapun? Sudahlah, tidak semua manusia bodoh menilai kenyataan yang telah terjadi. Pergilah, cukup luka saja yang tertinggal jangan kebencianku. Aku tak ingin membenci manusia yang pernah kuberi hatiku sepenuhnya. Sudah, akupun tak ingin mendengar apapun lagi tentangmu.

Aku telah melewati yang tersulit lebih dari sekedar kepergianmu. Namun, dari segala sulit, kamu adalah yang tersakit. Sebab sebelum tergenggam, tanpa selamat tinggal, pergi itu mematahkan hatiku. Aku hanya sekedar patah, bukan hancur seperti yang pernah kau kira. Sudahlah, bahagialah dengan pilihan hidupmu. Aku tak akan lagi meraba raba sepi untuk mencarimu. Sebab, hatiku telah mati setelah kepergianmu.

Komentar

  1. Melupakan masa lalu adalah hal yg tdk mungkin. Namun memaafkan masa lalu adalah cara terbaik utk mengikhlaskan dan melepas semua. Berdamai dg masa lalu tanpa merundung dendam yg tak kunjung usai, mampu memperbaiki silaturahmi yg sempat terputus, jika seperti ini, berteman dg masa lalu adalah tindakan dewasa yg memang harus dilakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. duanges aku mocoe pla sajae awamu kok iso ngene harang wkwk

      Hapus

Posting Komentar