Adakah yang harus kujelaskan lagi perihal sosokmu? Pria parubaya yang harusnya kupanggil papa. Akupun lupa kapan terakhir aku mengucapkan kata itu. Aku bahkan tak ingat lagi persis wajahmu dalam ingatanku. Bukankah tak seharusnya seperti ini? Hubungan antara seorang ayah dengan putrinya yang angkuh. Yang bahkan tak layak untuk disebut hubungan sedarah. Sungguh, aku benci hidupku.
Hari ini, tepat hari bertambahnya usiaku. Sudah 20 tahun aku menghirup oksigen dunia, berusaha menikmati getir perihnya kehidupan. Adakah kau ingat? Putri kecilmu, putri yang kau timang timang, putri yang akhirnya kau abaikan itu telah menginjakkan usianya menuju dewasa. Dia bukan lagi putri kecil yang pernah kau hajar dengan rotan, dia juga bukan lagi remaja yang pernah hampir lumpuh hanya karena emosimu. Dia sudah dewasa, dia sedang keras memperjuangkan hidupnya dan kedua adiknya. Pernahkah terlintas dalam benakmu tentang hari ini? Tidak perlu mengingatnya. Cukuplah ada disampingku, seperti ayah ayah mereka.
Lama tak kudengar kabar tentangmu. Dimana keberadaanmu, atau bagaimana kondisi kesehatanmu. Akupun tak lagi mendengarnya. Namun, beberapa hari yang lalu, aku mendengar kabar tentangmu lagi. Dimana kau berpijak hari ini. Hanya berjarak 28 km saja dari kota yang kutinggali, namun apakah kau berusaha mencariku? Datang menemuiku dan kedua adikku. Kami tidak butuh uangmu, seberapa banyakpun uangmu tak akan berpengaruh bagiku dan kedua adikku. Toh selama ketuk palu pengadilan memisahkanmu dengan mamaku, kau sudah tak lagi menafkahi kami. Hanya saja datanglah kemari, temui kami, tidakkah kau rindu dengan darah dagingmu sendiri?
Lalu, apakah ketuk palu pengadilan sekejam ini? Aku bahkan tidak pernah berusaha membencimu, sungguh. Aku berusaha melapangkan hatiku sendiri untuk menerima pedihnya perpisahan. Kenyataan yang harus kuterima adalah aku yang harus menggantikanmu, menjadi tulang punggung bagi kedua adikku. Bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Tidakkah kau berfikir ini bukan perkara mudah? Akupun harus meredam kedua adikku ketika mereka bertanya mengapa perpisahan itu terjadi. Dan pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa akupun tak pernah rela ketuk palu pengadilan menghancurkan keluargaku?
Akupun sama seperti mereka, pah. Aku butuh ayahku. Aku butuh keluargaku. Aku butuh kasih sayang yang utuh. Aku butuh perlindungan penuh. Aku ingin hidup seperti orang lain, seperti anak anak seusiaku yang masih bisa merasakan tawa renyah ayah mereka. Bukan aku tak mensyukuri hidupku, aku hanya tidak pernah mengerti seorang ayah yang bahkan tak ingin lagi menemui anak anaknya. Apa salah kami pah? Cukuplah perpisahan menghancurkan segalanya, jangan buat kami kehilangan satu dari sayap kami. Lupakan perihal nafkah yang tak pernah kau penuhi, aku dan mama masih sanggup menghidupi keluarga yang kita bangun sendiri. Lupakan perihal kebencianmu terhadap mamaku, ketidaksanggupanmu menerima perpisahan ini. Nyatanya hingga perpisahan itu terjadi, kamulah yang menciptakan jarak antara kami. Sudahlah.. lupakan segala ego yang membumbung tinggi, tidakkah kau rindu darah dagingmu pah?
Komentar
Posting Komentar