Pada hari hari kelabu setelah kepergiannya, aku masih tetap saja sama. Menikmati setiap patahan demi patahan yang disebabkan olehnya. Mendiami perih yang tak kupahami akhirnya. Kau tau? Aku hampir kehilangan harap untuk sekedar tertawa. Aku hampir kehilangan cara untuk membahagiakan diriku kembali. Aku, hampir saja sepenuhnya menyerahkan diriku pada takdir. Namun, hadirmu membawa dekap yang kufikir takkan berakhir.
Kau datang dan mengakui hadirmu sebagai seorang teman. Perlahan, kau mengajarkan padaku bagaimana untuk kembali tertawa tanpa membenamkan luka. Sebab luka tak perlu dibenamkan, dia akan memudar bersama detik yang berdetak. Kau mengisi setiap kosong yang sengaja kubiarkan sepi. Kau memberi dekap yang cukup lama tak membungkus tubuhku yang beku. Dan kau tau? Ada patah yang semakin remuk saat lenganmu melingkar ditubuhku. Sebab, takutku akan sebuah kepergian sekali lagi.
Kulewati hari dengan bangkitku untuk berdiri kembali. Melupakan yang pergi tanpa salam. Merelakan yang hanya ingin singgah. Satu waktu, aku merasa ada yang berbeda dariku. Aku kembali temukan nyaman yang sempat hilang. Aku kembali bertemu dekap yang membuat jantungku berdetak seribu kali lebih cepat dari biasa. Kufikir aku takut sebuah hilang menarikmu jauh dari ragaku. Nyatanya benar, aku kembali jatuh cinta.
Awalnya, kufikir hanya sebatas pelarian sebab lukaku tak kunjung melupa akan sebuah pergi. Namun bodohnya, aku semakin ketakutan akan kehilangan sekali lagi. Aku merasa kecupan dikeningku bukan sebab aku temanmu, namun lebih dari sekedar itu. Bisakah kau jelaskan padaku apa yang sedang berdetak di jantungku saat lenganmu melingkar ditubuhku? Aku mungkin tak bisa pastikan ini cinta, namun aku hanya merasa utuh bersamamu.
Setelah yang terjadi di beberapa hari terakhir, aku meyakinkan diriku untuk tak perlu patah kembali. Sebab begitulah Tuhan menciptakan pelangi setelah hujan. Tak selalu cepat namun tepat. Dan, bisakah kau menjadi orang yang tepat dari Tuhan untukku? Kau tau, aku tak mudah memberikan hati, namun kau berhasil merampas hati. Tak bisakah kau tinggal disini? Bukankah kau juga lelah pada yang hanya ingin singgah? Bukankah kau juga mencari tujuan untuk berhenti? Akupun begitu. Kita bahkan melewati banyak hal yang lebih dari sekedar teman biasa. Tinggalah, jangan jadikan aku pengecut untuk yang kedua kalinya.
Komentar
Posting Komentar