Untukmu perempuan yang akhirnya
bisa berdua dengan kekasihku, setelah menunda banyak cerita sekian lama.
Bahagiakah? Sudahkah merasa dendammu terbalaskan? Begini, aku tau saat berdua
denganmu dia mungkin bukan lagi kekasihku. Saat itu, mungkin kami sedang
beristirahat dari segala jenuh menjalani hubungan yang berlalu cukup panjang.
Kami mencari jati diri masing-masing, juga melalui banyak hati. Termasuk
bersamamu. Aku tidak mengerti apa yang priaku rasakan saat bersamamu. Sekedar
nyaman atau selebihnya, aku tak cukup memahami itu. Namun, jika perkara rasa,
kurasa tidak. Sebab rasa tak mungkin hadir secepat angin meniup daun hingga
gugur.
Perkara jatuh cinta, aku tau di
masalalu kau pernah begitu keras mendekat padanya. Mencari setiap celah untuk
bersama, memantaskan diri mendampinginya. Lalu jika Tuhan ingin dia bersamaku,
apakah kebersamaan kami adalah suatu kesalahan? Bukankah hari itu diapun bukan
kekasihmu? Aku tidak tau perihal apa yang tersimpan di lubuk hatimu. Perihal
apa apa yang masih belum terselesaikan diantara kalian. Sebab selama bersamaku,
dia milikku, seutuhnya. Dia menjadi seseorang yang paling ketakutan dengan
suatu pergi. Dia lebih dari menyerahkan dirinya padaku. Belumkah cukup kisah
panjang kami menjadi pertimbanganmu untuk mendekat kembali pada priaku?
Sungguh, aku tidak pernah
membencimu. Atas apa yang terjadi kemarin, atas segala hal diluar logikaku. Aku
hampir tidak sepenuhnya percaya pada bersama yang kamu rangkai dengan
kekasihku. Seseorang yang kufikir temanku. Yang cukup mengerti bahwa kami telah
merajut kisah panjang dan tak akan berakhir begitu saja. Tidakkah terlintas
dalam benakmu perihal suatu pelarian? Sudikah hatimu menjadi singgahannya saja?
Tidak bukan?
Aku meminta maaf atas bersama yang
kalian lakukan tanpa sepengetahuanku. Meminta maaf atas perginya kekasihku
bersamamu. Ntah sebahagia apa hatimu hari itu dan sepatah apa hatimu hari ini.
Aku perempuan dan aku mengerti. Namun, kembali untuk memahamiku, aku temanmu
dan dia kekasihku. Semunafik apapun bibirku berteriak aku tidak terluka, dunia
tak akan mempercayainya. Bagaimanapun, dia telah cukup lama bersamaku. Melalui
segala sulit, mendampingi setiap laku kerasnya, mengikuti alur hidupnya yang
tak semudah saat kamu duduk disampingnya. Kisahku tak mampu terbeli dengan
sehari tawamu bersamanya. Aku tidak membatasi ruang temu kalian, bertemanlah
dengan kekasihku, jika ingin mencintainya cinta saja dia, nikmati setiap tawa
dengannya, mengayunkan pandanganmu padanya, lakukan saja. Namun ada hal yang
mungkin tak akan pernah bisa kau lakukan, memilikinya. Sebab sampai hilang
warasku, tak akan kubenamkan dia, pada sesosok apapun itu.
Tulisanmu mewakili perasaanku 😣
BalasHapus