Perempuan Diujung Senja

Sore itu, seperti biasa aku menikmati kilau jingga ditepi laut. Sembari menutup mataku, kuhirup damai senja yang menjadi favoritku. Aku selalu datang ke tepian hanya untuk sekedar menikmati sang jingga. Melebur segala lelah, perih, juga benci. Melapangkan dadaku akan apapun yang mencoba menyakiti. Aku tak tau mengapa senja menjadi obat dari segala lara. Namun hari itu, aku mungkin tidak sedang terluka. Aku hanya merasa kembali utuh saat menatap kilau sinarnya.

Kulihat petang telah menutup sang jingga. Aku bergegas untuk pulang dan merebahkan tubuhku setelah aktivitas panjang yang cukup melelahkan. Namun saat kupalingkan tubuhku, aku melihat seorang gadis dengan tatapan parau yang tetap berusaha untuk berdiri. Aku yang benci dengan tatapan itu tak lantas pergi begitu saja. Kuhampiri dia meski tak kukenali sebelumnya.

Kuajaknya duduk di tepian tempat biasa aku menghabiskan senja. Tanpa ragu, aku bertanya mengapa dia tetap berdiri saat sang jingga bahkan telah meredup. Ia diam, tanpa sepatah kata. Lagi, aku bertanya mengapa tatapan matanya terlihat parau bahkan seperti tak hirau akan apapun. Ia tetap diam. Namun, bulir airmata membasahi pipinya seakan menjelaskan apapun yang tak mampu ia jelaskan.

Beberapa saat setelah airmata terjun bebas dari kelopaknya, ia mulai membuka bibirnya. Ia menceritakan sebab parau yang terlihat di tatapan matanya. Seorang pria telah mematahkan hatinya. Ini kali pertama ia merasa seseorang berhasil membuka lebar pintu hatinya. Ia merasa teduh saat tatapan mata sang pria menembus jantungnya. Namun sayangnya sang pria tak menyambut hatinya dengan suka cita. Sang pria justru menampar asanya hingga patah. Tak perduli meski ia telah menyatakan yang tak seharusnya wanita ungkapkan terlebih dahulu.

Diujung cerita ia juga mengungkapkan betapa sesal menyelimuti hatinya. Ia pernah merendahkan sang pria hingga membuat sang pria tak ingin lagi memalingkan pandang padanya. Ia bahkan lupa bahwa waktu berpeluang memutar segalanya menjadi mungkin, seperti jatuh cinta. Saat ini, pria itu sedang cinta cintanya pada perempuan lain. Ia selalu melihat sosok perempuan lain pada mata sang pria. Hingga membuatnya tak mampu menembus tatapan sang pria. Ia membenci perempuan itu. Seolah olah perempuan itu terdakwa atas lukanya hari ini. Meski ia sadar, ia tak berhak atas benci yang membumbung di hatinya.

Gelap semakin larut, kulihat seorang pria datang menjemputku. Yaaah.. dia adalah pria yang bersamaku di beberapa bulan terakhir. Pria yang selalu menghabiskan detiknya bersamaku. Namun ketika pria itu mendekat, perempuan yang duduk disampingku seakan tertarik oleh gravitasi. Ia bergegas berdiri dan lari menjahuiku. Aku bahkan tak mengerti mengapa dia terlihat membingungkan. Kukejar ia hingga kudapatkan tubuhnya, namun ia tetap saja tak ingin memalingkan pandangnya padaku. Pria itu mendekat semakin dekat dan bulir airmata deras membasahi pipinya. Saat itu, kutau, aku adalah perempuan yang ia benci. Aku adalah sebab dari parau tatapannya. Pria yang ia cintai nyatanya jatuh cinta padaku lalu mengabaikan rasanya. Aku hanya diam, ingin memeluknya, namun benci itu memerah di matanya. Ia kembali menjauh berlari tanpa ingin kuikuti. Pria itu memelukku lalu menjelaskan padaku bahwa yang tumbuh dalam hatinya juga bukan kesalahan. Perempuan itu sekalipun tak berhak atas bencinya. Aku tetap diam tanpa sepatah katapun. Namun pria itu benar, tak ada yang salah dengan cinta. Bahkan pada siapapun rasa itu jatuh, tetap saja cinta bukan hal yang harus dipersalahkan. 

Komentar