Pergilah, Sebab Kau Pantas Bahagia

Aku hampir kehilangan kata untuk menulis tentang sebuah pilihan. Tentang yang selalu membuatku hilang arah. Tentang yang tak bisa hati kecilku putuskan. Hari ini mungkin terlihat sama seperti kemarin. Aku bersamanya, dengan dia yang menemaniku saat jarak hampir meleburku hingga habis tak bersisa. Dia yang bukan hanya raganya, juga hatinya yang setiap saat berwujud di sisiku. Dia yang jatuh cinta padaku tanpa menuntut utuh. Meski kutau, hatinya tak pernah utuh saat harus merelakanku dengan kekasihku.

Aku tak merasa hebat di titik ini. Aku menyembunyikan hal yang tentu akan menyakiti kekasihku jika ia tau. Namun, aku pun tak sampai hati meninggalkan dia. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kisahnya, dia tetaplah pria yang dengan keras kepalanya tak ingin binasa begitu saja. Ia meyakini banyak hal tentang kekuatan hatinya. Bahkan saat asanya mulai patah sekalipun, kulihat ia masih ingin bertahan. Sebab sedari awal, ia menyadari bahwa sosoknya bukan pria yang mudah menjatuhkan komitmen untuk jatuh cinta sekali, lalu bertahanpun sekali. Kali ini, semesta seakan membuatnya jatuh pada cinta yang sulit. Dan komitmennya sendiri yang akhirnya mematahkannya meski keras kepalanya bertahan tak mudah terluluhkan.

Kutau, sejauh ini ia terluka cukup dalam. Ia bertahan pada banyaknya ketidakpastian. Ia merobek hatinya sendiri hingga merawatnya sendiri. Kau tau? Ini bukan mauku. Jika aku bisa memilih aku tak ingin berada pada sebuah pilihan. Dan jika kau pikir aku tak terluka, akupun merasa luka itu menyayat hatiku. Sama dengan apa yang merobek hatimu. Akupun terluka sebab pilihan seakan membakar isi kepalaku untuk segera menjatuhkannya agar tak melukai siapapun. Ini tak begitu saja mampu kuputuskan, ada yang memberatkan hatiku melepasmu. Kau harus tau itu.

Tak jarang kuminta kau pergi bukan sebab tak ada yang kurasa perihalmu. Aku memintamu pergi agar tak semakin lebar luka yang kutancap dihatimu. Kau tau, aku adalah ketakutan panjang untuk menyakiti siapapun. Ntah bagaimana aku disakiti, namun aku tak sepengecut mereka yang menyakitiku. Aku pun tak ingin menyaksikan bulir airmata dari perkasamu yang terjun bebas hanya untuk memaksaku bertahan bersamamu. Aku melepasmu untuk menyelamatkan hatimu. Aku mematahkan asaku sendiri agar tak timbul lagi luka-luka panjang karenaku.

Pergilah.. sejauh jauhnya hatimu ingin. Lukamu takkan separah ini jika kau memilih pergi. Utuhkan asamu untuk jatuh cinta kembali. Kau berhak bahagia dengan cinta yang mengutuhkan hatimu. Maaf, aku tak cukup berani menahanmu pergi. Aku tak mampu menyakiti lebih dalam lagi. Biar kisah kita menjadi cerita betapa ini adalah hal terberat yang pernah kuputuskan. Aku pun takkan sirna begitu saja. Kau masih bisa melihatku, menikmati segala yang selalu kau nikmati saat memandangku. Teduh, yaa, semua masih sama. Hanya dengan wujud yang berbeda juga dengan kisah yang tak sama. Percayalah, sedari awal aku tak ingin kisah ini ada. Namun, apa yang tak bisa kau lepas dihatimu juga perihal apa yang bergejolak di hatiku. Pergilah.. sebab kau pantas bahagia.

Komentar