Aku Perasa Paling Peka Saat Kamu Memilih Tiada


Pada hari hari berlalu, aku melewatinya bersamamu. Setiap detik bahkan tak terlewatkan sedikitpun. Aku merasa utuh saat lenganmu melingkari tubuhku. Saat dunia membuatku kelelahan sekalipun, kulihat sosokmu masih menjadi tempat pulang favoritku. Aku suka wangi tubuhmu. Aku suka mendengar deru nafasmu di telingaku. Akupun suka melakukan apapun bersamamu, bahkan jika hanya menikmati mie goreng berdua saja aku selalu rindu jika tak melakukannya denganmu. Kurasa apa yang ku mulai sejauh ini membuatku tak ingin beranjak dari zona yang akan membunuhku nanti. Namun kutahu, di waktu yang mana kisah kita pasti akan berakhir. Ntah aku yang pergi atau kau yang memilih menyerahkan kisah kita pada takdir.

Kufikir benar, pada waktu yang telah ditentukan takdir, kau seketika berubah menjadi orang terasing. Kau menjadi manusia yang tak kukenali sedikitpun. Bahkan lenganmu yang kurasa menjadi tempat pulang terhangat favoritku, kini menjadi lebih dingin dari rintik hujan diluar. Aku tak lagi merasa damai disana. Bagaimana mungkin kau berubah saat hatiku mulai ketakutan akan pergimu? Bahkan tatapanmu yang meneduhkan sekalipun tak lagi bisa kurasakan teduhnya. Adakah hati lain yang lebih menjanjikan bahagia padamu?

Aku tak tau sebab apa dingin itu membentengi tubuh juga tatapanmu. Setiap kali kutanya perihal mengapa kau seringkali menghilang, juga perubahan demi perubahan yang terjadi padamu, kau seolah meyakinkan diri bahwa kau baik-baik saja. Tak ada sedikitpun perubahan yang terjadi padamu. Namun, bagaimana mungkin hatiku salah? bukankah hati perempuan adalah perasa paling peka?

Kau tau, aku adalah perasa paling peka saat kamu memilih tiada. Aku merasa langkah kakimu terhenti pada satu titik yang akan membawamu berjalan mundur. Kulihat asamu mulai patah, kau memilih menyerah pada kisah kita. Setelah apa yang terjadi, aku telah menyerahkan hati padamu. Lantas setelah sejauh ini, kau memilih untuk tak lagi menemaniku memperjuangkan impian-impian kita? Lalu untuk apa keras kepalamu meyakinkan segala raguku perihalmu? Jika kau fikir ini sekedar pelarian, barangkali kau perlu berfikir lebih keras lagi. Sedalam apa aku menyerahkan hati. Sebab jika aku tak pernah sungguh-sungguh melibatkan hati disini, aku takkan bertahan sejauh ini.


Komentar