Dik,
ketika di usia belia atau remaja kita seringkali menjalin hubungan yang mungkin
biasa mereka sebut dengan istilah cinta monyet. Dimana kita masih mudah untuk
jatuh cinta, mudah untuk patah hati, juga mudah untuk berganti-ganti pasangan.
Dimana kitapun sibuk mencari kelebihan fisik atau bahkan materi. Segala yang
mereka sebut “kelebihan” juga menjadi poin utama untuk mengejar popularitas.
Diusia remaja, mindset kita akan mengacu pada pasangan yang memiliki kelebihan
secara fisik atau bahkan materi secara tidak langsung mengangkat popularitas
kita di kalangan remaja sebaya kita. Begitu, bukan?
Dik,
perkara cinta tidak sesederhana itu. Ketika kalian bertanya, “kak, kenapa kakak
putus?”, “kan pacar kakak udah ganteng”, “pacar kakak juga lebih secara
materi”, “pacar kakak baik loh segala mau kakak aja diturutin”, “kok kakak
putus sih?”, “pacar kakak kurangnya dimana coba?”, begini dik, diusia kalian
mungkin fisik dan materi menjadi kriteria utama dalam mencari pasangan. Namun,
diusia kakak yang telah mencapai kepala 2, fisik dan materi bukan lagi segala
yang harus didewakan dalam kriteria. Diusia yang bukan lagi remaja, kalian akan
bertemu dengan banyak rintangan hidup. Dimana ada masadepan yang bukan hanya
ditunggu, juga mimpi yang harus diperjuangkan.
Dik..
tidak ada jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan diatas.
Juga gunjingan demi gunjingan yang mengacu pada kebodohan kakak perihal berani
mengambil keputusan melepas seseorang demi bersama orang lain. Sebab akan
melelahkan jika menjelaskan sesuatu pada seseorang yang tak sepaham dengan pikiran
kita. Namun, sedikit kakak jelaskan disini, cinta adalah perkara sederhana yang
tidak bisa disederhanakan begitu saja. Saat diusia yang bukan lagi remaja,
cinta bukan hanya cinta saja, dik. Ada mimpi, harapan, juga masadepan yang
bergantung disana. Kita tidak butuh lagi ketampanan atau bahkan materi yang
melimpah jika ia tak pernah bersedia memperjuangkan mimpinya. Jika mimpinya
saja tidak pernah ia perjuangkan, bagaimana dengan cintanya? Bagaimana dengan
mimpi kita? Lantas, apakah mimpi kita hanya akan kita perjuangkan seorang diri?
Lalu, untuk apa cinta ada bersama kita? Hanya memberi semangat tanpa ingin
berjuang bersama? Nihil, dik. Juga perihal materi yang melimpah, apakah
selamanya kita akan dibahagiakan oleh materi saja? Apakah materi tidak akan
habis oleh masa? Apakah materi menjadi yang didewakan dalam cinta? Cinta memang
matrealistis dik, namun tidak sehina itu.
Berani
melepas seseorang demi orang lain yang bersedia memperjuangkan mimpinya juga
mengajak kita berjuang bersama atas mimpi-mimpi kita itu jauh lebih
membahagiakan, dik. Sebab cinta bukan perkara yang rumit, hanya perlu bersedia
berjuang bersama saja sudah lebih dari cukup. Yang perlu kita tau, ada
masadepan disana, juga mimpi-mimpi yang harus diperjuangkan. Ini bukan perihal
kelebihan lagi, ini adalah perihal bagaimana ia berjuang untuk mimpinya,
hidupnya, juga masadepannya. Sepakat untuk bersama, menerima segala
kekurangannya, dan berjuang bersama atas mimpi-mimpi kita. Sesederhana itu,
dik.
Sebab
dari itulah, terkadang hidup memang menawarkan banyak pilihan. Kita dituntut
untuk memilih atau bertahan pada pilihan. Jika dirasa pilihan kita sudah lebih
dari cukup untuk melengkapi kita, kita tak perlu lagi memutuskan untuk memilih.
Namun, jika sebaliknya, pilihan kita tak pernah bersedia memperjuangkan apa
yang seharusnya diperjuangkan, lepaskan. Tentukan pilihan lain. Hidup kita
adalah perihal bagaimana pilihan kita nanti. Pilihan kita pun pasti akan
mendatangkan resiko, namun bukankah kita berhak memilih untuk bahagia? Maka,
jika kita hanya mendengarkan gunjingan orang lain tentu akan sangat melelahkan.
Namun, ini hidup kita, dik. Bahagia kita adalah perihal bagaimana cara kita
menentukan pilihan bukan mendengarkan gunjingan mereka.
Komentar
Posting Komentar