Duduklah Disini, Meski Terkadang Bersamaku Melumpuhkan Asamu

Ini tentangku dan segala kekurangan yang ada pada diriku. Aku mungkin hanya perempuan biasa, sama seperti perempuan-perempuan lainnya. Yang membedakanku adalah aku terlahir dari sebuah kehancuran, besar dibawah tekanan, juga tumbuh dengan sebuah ketakutan. Namun, kufikir itu bukan alasan mengapa ego yang kumiliki seringkali mendewa. Keras kepalaku yang terkadang tak bisa diluluhkan. Aku seringkali tak mampu menahan apa yang membabi buta dalam diriku. Termasuk ego juga rasa yang tumbuh di dadaku.

Sejauh ini, dengan beberapa pria pilihanku, aku selalu mencari sosok yang mampu membimbing juga mengerti bagaimana diriku. Namun, sejauh ini pula, tak kutemui satu dari mereka yang bersedia tetap duduk bersamaku setelah mengetahui segala kekurangan yang ada pada diriku. Mereka memilih tiada dengan menjadikan kekuranganku sebagai alasan kepergiannya. Mereka menuntut segalaku sempurna. Mereka bahkan tak memberiku kesempatan untuk memperbaiki apa yang menjadikan mereka pergi. Lantas, apakah cinta adalah perihal bersama dengan yang sempurna saja?

Setelah segalanya berlalu, aku bertemu denganmu. Dengan pria yang berbeda dari mereka yang memilih tiada. Aku tak cukup paham apa yang membedakanmu dengan mereka. Yang aku tahu, kau adalah pria yang suka mengajakku berdebat hingga larut namun tak lupa memeluk segala kalut. Kau adalah pria yang selalu duduk disampingku mendengar segala lelahku, menampung airmata di bahumu, juga memujiku hanya untuk sekedar membuatku tertawa hingga lupa mengapa aku menjatuhkan airmata. Dan pada saat yang sama, aku takut kehilangan itu.

Di hari-hari berlalu, kulihat tatapanmu tak lagi sama seperti pertama kali menatapku. Tatapanmu lesu juga acuh. Kau terlihat kelelahan berjalan bersamaku. Kau terlihat ingin menyerah, melepaskanku pada semesta. Aku mengutuk diriku sendiri juga kekurangan-kekurangan yang ada padaku. Ego dan beberapa hal yang mematahkan asamu. Aku selalu berusaha menjadi yang kau ingin, meski nyatanya aku gagal menjadi inginmu. Namun aku hanya manusia, aku hanya perempuan, dan aku mencintaimu.

Tetaplah disini, duduklah bersamaku, ajaklah aku berdebat namun jangan berfikir untuk beranjak. Aku memang belum baik, tak akan berakhir dengan singkat jika berbicara perihal kekuranganku. Kutahu asamu juga telah patah, namun jangan memilih tiada. Ajarkan padaku perihal bagaimana meredam ego, menenangkan amarah, juga meluluhkan keras kepala. Kumohon, duduklah disini, meski terkadang bersamaku seringkali melumpuhkan asamu.

Komentar