Yang tersimpan adalah sebuah angan. Tentangnya yang kusimpan dalam dalam.
Kukagumi ia dari segala yang tak terjamah oleh pandang. Meski kusadari, adaku
tak pernah ia sadari. Kupahami bagaimana aku tak pernah terlintas dalam
benaknya. Mungkin karena aku yang meniadakan diriku dari sorot pandangnya atau
memang ia yang tak sudi menatapku.
Seperti kupuja sosoknya, kucintai jingga diufuk barat yang selalu
menemani gundah rinduku padanya. Aku suka bercengkrama kala senja menabur
jingga. Indah, meski tak mampu kutahan gelap yang akan tiba. Kau tau,
kucurahkan segala yang menumpuk dalam dada. Perihalmu saja, manusia yang kupuja
sepenuh jiwa.
Padanya, senjaku, kutulis sebaris nama di hatiku. Ditengah riuh ombak
yang gaduh, kutenangkan asaku yang perlahan mulai mematahkan dirinya. Kuingin
kau menatapku sekali saja, memahami bahwa yang kutahan bukan sekedar rasa.
Lalu, pergilah. Acuhlah seakan kau tak pernah tau kucinta kau segila gilanya.
Itu lebih baik dari kau yang membuta.
Rasaku tak menuntut kau ikat. Atau bahkan kau balas. Hanya saja, tataplah
aku sejenak. Selami apa yang bergemuruh dalam dada. Maka kau akan paham,
sedalam apa kau hidup dan menetap disana. Perihal bagaimana rasamu padaku bukan
lagi bagian dari kuasaku. Kau boleh meludahi atau bahkan mencaci. Namun sekali
saja, dekap rinduku, seperti senja yang sedang mengurai jingganya disana.
Komentar
Posting Komentar