Papa, Ingatkah Kau Pada Kewajibanmu Sebagai Seorang Ayah?

Selama hampir bertahun-tahun kutepis segala kesalahan yang pernah kau lakukan, hari ini, aku mengiyakan jutaan anggapan buruk yang mereka tuju padamu. Meski pilu di hatiku. Selama bertahun-tahun pula aku tetap berusaha mencintaimu. Menepis anggapan buruk. Juga memaksa pilu di hatiku berdamai dengan kenyataan yang telah Tuhan gariskan untukku. Itu tidak pernah mudah, pa. Telingaku terpaksa harus tuli saat mereka mengurai argumen betapa kau memang tak pernah layak kupanggil papa. Aku berusaha mendamaikan diri. Adakah kau paham sesulit apa jalan hidup yang ku lalui saat mama memutuskan untuk mengakhiri semuanya?

Tentu saja kau takkan paham, pa. Sebab yang kau tau, setelah perceraian, kehidupan kami terasa jauh lebih baik. Iya, mungkin lebih baik. Nampak mama yang jauh lebih tenang menjalani hidup setelah perceraian. Namun bagaimana dengan aku? Juga kedua adikku? Bagaimana dengan beban psikologi yang harus kami tanggung? Siapa yang berhak kami persalahkan dari keadaan ini? Dan siapa yang harusnya bertanggung jawab dari kehancuran ini? Tentu, kau takkan menuding dirimu sebab yang kau tau ini jalan hidup yang mama putuskan sendiri. Dan kau tak pernah merasa turut andil dalam hancurnya psikologi kami.

Pa, sungguh, aku tak pernah ingin menimbun dendam padamu. Menyalahkan kau seperti yang orang lain lakukan. Mengiyakan setiap anggapan buruk yang tercuat dari mulut mereka yang tak paham kau. Sebab hanya aku yang mencintai kau sedalam ini. Hanya aku yang berusaha berdamai denganmu tanpa mengulas segala kesalahan yang pernah kau lakukan hingga mama memutuskan perpisahan tanpa mempertimbangkan beban psikologi yang harus kami tanggung. Hanya aku, dan kau tak pernah paham akan itu.

Setelah perceraian, kau seolah lari dari tanggung jawab menafkahi kami. Mama, seorang ibu yang menanggung biaya pendidikan dan segalanya untuk kami bertiga tanpa meminta bantuan sepeserpun padamu. Mama bekerja siang malam melupakan segala kehidupan hanya agar kami layak hidup seperti orang lain. Dan kau, yang sesumbar pada mereka berjuang bekerja hanya untuk membiayai kami, namun nyatanya? Apakah memang setelah perceraian seorang ayah tidak perlu lagi bertanggung jawab menafkahi anak-anaknya? Jelaskan padaku di bagian mana kau benar sedangkan mamaku bersalah?

Papa.. aku mencintaimu. Lebih dari hidupku. Seperti kucintai degup yang berdetak di jantungku. Namun, mengapa seolah kau tak pernah ingin perduli pada kami? Pada kesulitan mama, juga pada tanggung jawab yang Tuhan letakkan dipundakmu? Papa.. cukuplah kau patahkan hatiku hingga remuk tak bersisa. Jangan bebani aku dengan kebencian yang tidak terkira. Bahagia selalu, pa.

Komentar