Di setiap kali
masalah demi masalah, ujian demi ujian bahkan goyahan demi goyahan hadir
mewarnai perjalanan kita, disitulah aku merasa rasaku sedang teruji. Rentan
waktu berjalan kau semakin sering di caci, di rendahkan serendah rendahnya, di
salahkan hingga tak ada satupun manusia yang berdiri menjadi benteng atas kau
yang teradili. Aku tak pernah membenarkan segala kesalahan yang kau lakukan.
Akupun tak ingin menjadi pengecut yang mengingkari kebenaran yang mereka
suguhkan. Yang bersalah tetaplah bersalah, begitupun sebaliknya. Namun kali
ini, tidak dengan opini mereka padaku yang berdiri membentengi kau yang
teradili.
Ku sadari kau
sebagai dzat yang diciptakan Tuhan dengan sempurna namun takkan mampu menjadi
yang sempurna. Kau pernah bersalah, kau pernah menjadi benar, kau pun pernah
dipersalahkan. Dan disaat kau bersalah, adakah kau paham bahwa rasaku bergetar
hebat meronta kesakitan? Ini bukan lagi perihal aku yang membenarkan kesalahan
yang kau lakukan, hanya saja pahami bahwa seluruh bagian dari kau telah melebur
satu dalam jiwaku. Bukankah belahan jiwa berdiri terdepan untuk mengakui
keberadaannya?
Kau tau, mereka meneriaki aku atas diamku yang
seolah membenarkan kesalahanmu. Mereka menuding habis kau bersalah, mereka
melempari batu kesalahan padaku yang memihak kau tanpa berusaha menjadi air di
tengah geloranya api. Meski begitu, aku tetap saja diam. Tak jua memberi
pembelaan atas sikapku yang membeku kali ini. Juga kau yang memilih lari dengan
tidak meninggalkan kalimat yang mendasari kau berargumen yang terkesan
bersalah.
Aku diam, menepi
dari ramainya perdebatan, merangkul sunyi tanpa mendendam pada malam. Ini bukan
kali pertama kau di adili dengan melibatkan aku sebagai satu satunya manusia
yang jiwanya melebur satu dengan kau. Namun, kali ini aku memilih diam. Sebab
kurasa mereka akan tetap mengadili kau bersalah meski kau memiliki alasan atas
argumen yang kau pertahankan. Dan itu melukaiku semakin dalam.
Tak apa, kau tak
perlu membuktikan padaku bahwa kau benar. Sekalipun kau benar benar merasa
benar. Atau kau tak perlu mengakui bahwa kau bersalah, sekalipun kau memang
menyadari sebuah kesalahan. Aku akan tetap ada disisi untuk memaklumi suatu
kesalahan, juga memeluk kebenaran. Tak perlu kujelaskan pada bumi agar seisinya
paham bahwa aku sedang menenangkan kau yang parau tak karuan. Mereka hanya
perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki sisi petang yang tak perlu di
adili berlebihan. Setiap manusiapun memiliki alasan atas apa yang mereka
pertahankan. Tenanglah, hibur sepimu bersama sunyinya malam, kau tak pernah
sendirian berjalan dalam petang. Aku disisi, mengadili kau dengan lengan yang
melingkari tubuh yang mereka persalahkan.
Komentar
Posting Komentar