Mungkin begitulah adanya, kau, satu dari beberapa yang akhirnya hanya akan tersimpan rapat-rapat. Cerita tentang kau dan aku hanya ilusi dari pikiran kacau yang sedang kuciptakan. Akan begitu saja seterusnya. Kau kembali menjadi asing, begitupun aku yang terasingkan. Meski nyatanya, kau lebih dari sekedar hidup dalam raga. Rasa yang tumbuh didadaku seperti sengaja mencekam leher, membelenggu asa, dan akhirnya membusuk sia-sia. Kau tentu saja takkan paham sebab memang tak ada yang perlu dipahami.
Kesepakatan sosial, katamu. Aku sedang memahami makna disetiap hurufnya. Memahami bahwa ada yang lebih kau jaga dari hanya sekedar rasa. Kesepakatan yang lebih dulu ada untuk menyepakatkan dirinya. Berulang kali kupahami, berulang kali pula aku menusuk duri. Sesak rasanya saat kau dan aku harus duduk berdampingan namun seperti terpisah sekat yang tak mungkin dilalui begitu saja. Kau asing saat itu, sedang rasaku tak mampu mengasingkan dirinya.
Juga profesionalitas. Kali ini aku mungkin memahami maknanya, namun hatiku membuta. Berjalan beriringan, melakukan segala hal bersama, dan bertukar pemikiran untuk sebuah kesepakatan sosial. Hatiku seperti bom waktu yang siap meledakkan dirinya. Sebab yang tumbuh di dada juga tak terjadi dalam detik itu saja. Dia sudah membusuk lama tanpa ingin mengakui bahwa dirinya ada. Dia, rasaku.
Kusadari bahwa ada hati yang kau dan aku tak mampu hianati. Kau yang lebih dulu bersepakat dengannya, dan akupun begitu. Kita membuat cerita seolah tak pernah ada, sedang nyatanya egoku memberontak pada semesta. Rasa tak pernah salah, katamu. Lalu, mengapa rasa ada saat kau dan aku telah bersepakat dengan yang lainnya? Bukankah dia tidak seharusnya bersarang dalam dada? Dan bukankah ini juga kesalahan dari sebuah rasa?
Hari itu, kau duduk disampingku sebagai kau tanpa dia dan aku tanpa dia. Kau mendekap tubuhku yang sedang beku oleh ego, tanpa sekat apapun. Lenganmu yang hangat pada akhirnya mampu melebur egoku. Kau mendekap seolah hari itu hari terakhir kau menjadi dirimu ketika bersamaku. Kau membisikkan sesuatu ditelingaku perihal kehidupan. Bahwa hidup itu seperti air yang mengalir. Saat terjun ia harus terjun, saat menabrak karang ia harus menghempas, dan saat berada dalam ruang ia harus mampu menjadi seperti ruang itu sendiri. Tapi bagaimanapun, ia harus tetap mengalir kemanapun aliran membawanya pergi.
Terimakasih dan mari bersepakat menjaga kesepakatan, tanpa saling mengikatkan perasaan..
Komentar
Posting Komentar