Mungkin hanya
aku, satu-satunya penikmat senja paling tabah yang tetap menunggu meski mendung
terkadang melumpuhkan asa.
Senja
itu kuberi nama, kau. Duduk diantara hamparan jingga yang menabur kilau
mewarnai sang mega biru. Aku suka pemandangan itu meski tak terjadi selalu.
Indah, mendamaikan lara. Menghirup setiap partikel yang melebur dengan jiwa.
Nyatanya, rasa memang nyata adanya. Bagaimanapun benci, sejauh mana pergi, ia
akan tetap mengakui keberadaannya.
Kunikmati
perdetik jinggaku sore itu. Berharap dengan setinggi-tingginya harap agar aku
tak lagi menemui kau dengan rasaku. Namun tetap saja membiru, pilu. Kau seperti
magnet yang menarik kuat tubuhku meski terlampau jauh. Kau suka duduk
berdampingan denganku, meminum kopi hangat ditengah gaduhnya gerimis yang
jatuh. Lalu, mengapa kau tetap saja tak ingin menyatu bersamaku?
Kau
pernah menjadi dia ditengahku, sedang aku tak pernah menjadi dia ditengah kau.
Apa yang kau inginkan dari penulis kecil sepertiku? Apa yang sedang ingin kau
rampas dari senjaku? Kau ingin selalu menjadi topik dalam sajak patah hati yang
kutulis? Kau tau, kubenci kau dan ratusan ribu sajak patah hati yang kutulis hanya
agar kau terbangun. Bagaimanapun lara yang sedang kusampaikan disini takkan
mampu menggoyah utuh yang sedang kau bangun kembali dengannya. Lalu, untuk apa
kau goyah lagi hatiku hari itu?
Kau,
senjaku. Hari ini, dengan perasaan yang sama, kuserahkan takdirku pada semesta.
Kulepas kau melebur dengan malam tanpa membencinya. Meski dia telah merebut apa
yang terlanjur tumbuh dalam dada. Namun, sudahlah, meronta sekalipun takkan
mampu membuat kau menoleh ke arah yang sama. Aku hanya sore yang mendamba akan mengurai
jingga bersamamu sedang malam lekas datang untuk merampas yang menjadi haknya.
Pergilah, jangan hirau akan
airmata. Aku akan tetap disini, menikmati senja yang kuberi nama; KAU.
Komentar
Posting Komentar