Sebentuk Ilusi yang Malang


Pada bagian ini, ada sesuatu yang menahanku untuk memijakkan langkah. Aku menemui kau, manusia yang menyajikan hal berbeda dari manusia lainnya. Menawarkan sejuta kali rasa nyaman yang sudah cukup lama tak menghinggapi raga. Sesuatu yang kupercaya ini bukan bagian dari ilusiku saja. Berawal dengan baik, hingga akhirnya membuatku menyerah. Aku menyerahkan segala yang berkecamuk dalam dada. Namun, sebuah kenyataan menamparku tanpa bela. Aku justru yang kedua.

Kutau, ada hati lain yang terlebih dahulu bersepakat denganmu. Seseorang yang ada jauh sebelum adaku. Menemani kau di segala keras kepalanya. Namun, saat rasa lelah menguji kau dengannya, kau justru datang padaku. Mungkin tidak memintaku untuk tinggal, hanya saja rasaku jatuh pada tinggalmu. Aku menyerah dengan segala ketakutan akan terbunuh oleh belati yang kutancap sendiri. Aku lebih rela berdarah, dari dia yang harus terluka.

Sebab bagaimanapun, aku tidak akan dibenarkan adanya. Aku tetap saja sebab dari kesakitan orang lain. Meski yang tumbuh di dadaku tidak sepantasnya dipersalahkan. Memang rasa tidak pernah salah, hanya saja seharusnya kau dan aku menyadari bahwa bermain diatas kesakitan orang lain tak lantas menanggalkan jenuh yang ada. Justru sebaliknya. Kau akan tetap kembali pada yang seharusnya, sedang aku terbunuh dengan ilusi yang kubangun untuk menjadi nyata.

Bagaimana mungkin aku bisa membangun ilusi kau nyata, sedang kau memang tak pernah nyata untukku. Sekeras apapun aku menahanmu pergi, kau tetap akan pergi. Sebab dia lebih berhak atas kau jauh sebelum aku ada. Kufikir, semenyenangkan apapun kau saat bersamaku, jika kau masih bertahan dengannya, kau tetap saja miliknya. Dan aku hanya persinggahan kedua yang nantinya pun akan dilepaskan. Seperih itu kenyataan.

Pada akhirnya, aku berusaha mendamaikan yang tak mampu lagi kutahan. Berdamai dengan malam, tanpa mengasingkan gelapnya. Aku sadar, bahwa kau hanya bagian dari ilusiku saja. Bukan sesuatu yang layaknya menjadi nyata. Bagaimanapun rasaku, bukan lagi bagian darimu. Kau biar saja kusimpan dalam angan. Kau tak perlu tahu seberapa dalam kau hidup disana. Kau tetap saja sebentuk ilusi yang malang, yang hanya mampu kukenang, tanpa mampu kugenggam.

Komentar