Tulisan Sederhana Untuk Harapan Yang Tak Sampai


Sore ini, senja membawaku pada satu waktu dimana aku dibelenggu asa, tentang sebuah harap yang dipupuk olehku sendiri. Aku sudah seringkali memperingatkan diri untuk berhati-hati bermain dengan harap. Sesuatu yang akhirnya hanya akan mematahkan asa. Membusuk sia-sia. Kufikir aku telah cukup berhati-hati bermain hati. Namun, seakan hati adalah sesuatu yang tak mudah kupahami inginnya. Ia bermain semaunya tanpa mempertimbangkan hasil akhirnya. 

Kecewa. Satu kata yang membuatku tak mampu berdamai dengan semesta. Meski kecewa adalah hasil dari harap yang kupupuk dalam dalam. Semakin tinggi kadarnya, semakin tinggi pula resikonya. Kutahu, tak mudah memang mengendalikan hati yang terlanjur menanam bibit harap. Namun, lebih perih lagi jika menuai hasil dari harap yang membumbung tinggi ke angkasa. Ia akan terjatuh seperti roket yang kehilangan kendalinya.

Aku benci diriku, saat sesuatu yang harusnya tidak pernah ada menjadi ada sebab kuminta ia ada. Aku mengutuk diriku, saat aku harus menelan pahit dari harap yang dipupuk olehku sendiri. Sungguh, aku tidak cukup tangguh berperang denganku sendiri. Seseorang datang tidak untuk tinggal, namun meninggalkan bekas yang tak mampu kutanggal. Aku pernah memohon pada siapapun yang datang, jika ingin tinggal silahkan tinggal, jika tidak dengan berbesar hati jangan mengacau parau apa yang seharusnya kubiarkan utuh.

Sekali lagi, tulisan sederhana ini kutulis untukku. Untuk diriku yang seringkali menanam bibit harap tanpa menuai hasilnya. Harapan yang tak pernah sampai pada kisahnya. Atas luka-luka panjang yang pernah kulalui, aku mengutuk harapan yang datang hanya sekedar harap. Bukan untuk mewujudkan dirinya dalam bentuk nyata. Bergegaslah berkemas, jika tak ada lagi kepentingan yang harus diselesaikan. Sebab merengkuh harapan yang tak pernah sampai ibarat berusaha menggenggam udara, bagaimanapun jemari mengepalkan dirinya ia tidak akan pernah tergenggam.

Komentar