Andai kau tahu, dari setiap ketakutan yang tumbuh di dadaku adalah bagian dari rasa sakit sebab kau tak kunjung utuh bersamaku. Aku benci menuntut kau utuh sedang kutau memaksa seringkali berakhir pilu. Aku pun berusaha memahami bagaimana waktu tidak sekilat itu melenyapkan segala yang pernah kau sepakati. Namun bisakah kumohon pahami apa yang sedang tumbuh didadaku perihalmu? Aku tak seegois yang terlihat pun tak senaif yang kutulis. Aku hanya dihantam lelah bertahan meyakinkan diri bahwa kau akan utuh bersamaku.
Aku tidak sedang membahas luka-luka yang terlanjur berdarah, biar saja. Ia akan mengering bersama waktu. Meski desir perihnya tak mampu kuredup. Andai saja kau bersedia duduk berdua. Namun sudahlah, aku pun kelelahan oleh setiap perdebatan perihal rasa. Tentu saja dia pemenang atas segalanya. Aku takkan mempertanyakan lagi perihal itu. Seakan rasaku tidak cukup berarti hingga hari ini. Kau utuh bersamanya, sedang bersamaku hanya perban lukamu saja.
Ketakutanku menjadi-jadi ketika kudengar wanita itu bukan hanya aku saja. Aku dibunuh oleh rasa yang membumbung tinggi tak terkira. Kuredam ego, kusisihkan rasa, hanya agar tak ada lagi perdebatan perihal rasa siapa yang lebih hebat. Aku mengakui kekalahan atas rasaku, biar saja Tuhan dan semesta yang menyimpan bagaimana yang tumbuh di dadaku bukan sekedar abu.
Pernah kuminta kau pergi bukan sebab rasaku telah membusuk mati. Hanya saja semakin kuat rasaku mengakar semakin besar pula kesempatan waktu menyeretmu jauh dari ragaku. Aku tidak menyiapkan diri atas segala bentuk kehilangan. Aku tidak cukup berdaya melepas sesuatu yang hampir tergenggam. Tidak mampu untuk yang kesekian kalinya. Diakhir-akhir pertahananku bertahan, aku masih bersedia memeluk segala asa yang remuk tak terkira. Kususun kembali meski kutau takkan menjadi utuh. Meski begitu, aku tetaplah lemah yang keras kepala bertahan hanya agar kau tetap bersamaku.
Komentar
Posting Komentar