Sebab Bagaimanapun Kau Selalu Mengagumkan


Sudah beberapa hari terakhir ini jadwal tidurku sedikit terganggu. Kuhabiskan di tempat yang menurutku cukup membosankan namun rasanya lelahku tak sebanding dengan lelah yang ia tanggung. Menanti hingga larut pagi, menyaksikan betapa tangguhnya pria yang sedang berusaha menyelesaikan akhir dari tanggung jawab yang membuatnya seringkali patah semangat. Lelah saja rasanya, membosankan jika diukur dari perempuan sepertiku yang tidak begitu suka forum diskusi atau apapun yang berbau keseriusan. Meski begitu, aku tetap saja bersedia menanti dengan rasa kantuk dan segala yang membuat lelahku semakin terasa ngilu.

Dia selalu mengangumkan, kataku. Ditengah asanya yang mulai runtuh, ia bangun kembali serpihan sisa-sisa lelahnya untuk tetap menyelesaikan hingga akhir. Kupikir tak ada manusia setangguh dia yang meski lelah tak terkira menampar pertahanannya, ia tetap bertahan. Sesuatu yang membuatku merasa lelahku tak cukup hebat darinya yang tak begitu saja menyerah. Ia bangkit kembali, menjadi tumpuan bagi yang lain, dengan semangat yang menggebu ia bangunkan segala lelah untuk tetap bertahan hingga akhir.

Yaa.. dia priaku yang mengagumkan sekali. Malam itu dihadapan puluhan pasang mata, dia dengan ketangguhannya berdiri menyampaikan yang harus terselesaikan. Tentu saja tak mudah, dilempari dengan ratusan caci, ribuan maki, diludahi dengan segala prasangka. Namun, itulah priaku yang mengagumkan. Yang selalu berusaha hebat membangun ketenangan dalam dirinya, yang tetap berdiri tegak meski kutau kekalutan sedang mengikat erat relung dadanya.

Dengan segala getir ringkih di dadaku, aku tetap saja bertahan menantinya. Meski ragaku terhalang oleh ruang, namun segala asa kupertahankan untuk meminta pada Tuhan agar tetap dikuatkan. Dan akhir dari tulisan kali ini, dia keluar dari tempat yang telah menghabisi jiwa dan raganya. Dia duduk tepat disampingku, menggenggam erat jemariku sembari melepas nafas lega. Aku pun dengan segala rasa syukur menyambut lelah matanya yang kembali berusaha tenang dihadapanku. Sungguh, ingin rasanya saat itu juga kudekap tubuhnya yang selalu mampu mendamaikan jiwaku. Kau terlalu mengagumkan priaku, kau selalu mengangumkan.

Komentar