Layakkah Kita Bertahan Pada Ketidakmungkinan?


Rasanya sudah terlalu lama aku tidak produktif untuk menulis sesuatu perihal luka. Meski nyatanya tidak semua yang terjadi adalah benar-benar luka. Aku rindu dibuat menangis sekencang-kencangnya oleh pupusnya harapan, atau bahkan tamparan kekecewaan. Perihnya mampu membuatku lebih produktif untuk menulis ratusan kata yang ingin meluap namun apalah daya. Hanya tergambar melalui tulisan, namun tidak layak untuk didengar. Ada banyak hal yang tertimbun rapi disudut ruang sepi. Tentang kau juga beribu rasa takut yang setiap saat mengerucut. Ternyata benar, aku melupakan takdir. Aku lupa pada apa yang seharusnya kufikirkan mulai hari ini. Bagaimana jika perpisahan menarik tubuhmu jauh dari ragaku? Atau kehendak Tuhan yang tidak menginginkan kita satu? Lalu, bagaimana denganku yang telah membeku dalam asa? Akankah kau juga mati terbunuh oleh luka?

Aku lupa mempertimbangkan takdir saat meletakkan hati. Kuberikan segala yang kupunya termasuk separuh ruang dalam diri. Aku lupa bahwa Tuhan memiliki kuasa atas kau, atas segala keputusan akhir. Waktu bisa saja merebutmu kapanpun yang ia mau. Sedang aku? Aku hanya memiliki keyakinan bahwa apapun keputusan Tuhan itu baik adanya. Namun saat itu terjadi, aku tidak pernah bisa memastikan bahwa aku akan baik-baik saja dengan kenyataan. Apakah aku akan menerima dengan ikhlas, atau bahkan membunuh separuh dari diriku yang kau rebut paksa saat aku berusaha menahan untuk tidak cinta sedalam-dalamnya.

Aku juga lupa perihal seseorang yang hidup di masalalumu. Aku lupa bahwa semesta pernah memberi restu, memeluknya dengan cinta yang ingin kupeluk, mencintainya dengan rasa yang ingin kugenggam. Bahkan seluruh bumi dan seisinya mempertahankannya untuk bersamamu, hanya saja kehendak Tuhan memalingkan rasamu padaku. Aku lupa, tidak semua mampu menerimaku sehangat menerimanya. Bahkan kedua orang yang kau fikir malaikatmu sekalipun. Mereka pernah bersikeras agar kau kembali bersamanya. Lantas, dimana tempatku berada? Apa yang salah dariku hingga aku tak layak dipeluk seerat itu?

Kutau, kau jatuh terlalu dalam pada kisah kita. Nyatanya memang kita sama-sama jatuh pada rasa yang sama. Tidak ada yang terlalu kuat atau bahkan sebaliknya. Namun, banyak ketidakmungkinan yang mengikat leherku untuk membuatku membuka mata. Bahwa secinta apapun, jika kedua dari mereka tidak meletakkan restu, kau akan tetap berdiri di seberang sana. Sekeras apapun usahanya. Sebab restu mereka adalah restu semesta. Meski begitu, rasa takutku tidak selalu perihal kehilangan. Ada banyak doa yang sengaja kurapal untuk akhir cerita kita. Merayu Tuhan agar bagaimanapun sulitnya semoga dia tidak akan menamparku dengan perpisahan.

Komentar