Sampai Pada Waktunya, Egoku Meronta


Seperti biasa, diluar jendela langit tampak menghitam lalu membiarkan hujan membasahi bumi sepanjang malam. Rintik demi rintik menemani setiap sepertiga malam dengan asa yang masih berusaha kugenggam. Terduduk diatas bentangan sajadah, berdiam, meratap pada setiap yang mulai lelah kuperjuangkan. Akan kemana langkah demi langkah yang kita lalui selanjutnya? Mampukah kau bertahan diatas ketidakmungkinan? Bagaimana jika nanti kau membanting arah lalu berbalik untuk menemui jalan lain? Apa yang akan terjadi padaku nanti setelah kau memilih berlalu?

Tentu saja, yang ada dikepalamu berbeda dengan apa yang sedang kutahan dalam angan. Bertubi-tubi ketakutan yang berusaha kusimpan hanya untuk mengelabuhi kenyataan yang sebenarnya kita tau, kita sedang dihadapkan pada jurang pemisah yang cukup dalam. Kau dan aku lupa bahwa jarak akan selalu ada. Semakin hari akan semakin jauh, akan semakin sulit. Aku tak mampu menahan waktu, begitupun kau yang tak mampu melawan takdir. Kita sama-sama lemah dihadapan semesta. Tidak memiliki pilihan lain selain menerima.

Pada setiap hujan yang jatuh, kuminta pada Tuhan agar kau tetap tinggal, setidaknya sedikit lebih lama dari perpisahan. Bukan sebab ketakutanku pada jarak atau bahkan rindu yang seringkali meradang ingin berpulang pada tuannya. Hanya saja ketidakmampuanku menjaga akan membuatmu berbalik arah. Kau tau, meski selalu kutitipkan kau pada sang kuasa lewat doa-doa, aku masihlah wanita yang tersungkur pilu mengakui kekalahan atas jarak yang mematikan. Seketika egoku mungkin meradang berusaha melawan kenyataan. Namun tetap saja, aku harus mengakui kekalahan bahwa kau tak akan pernah tinggal. Sekalipun kuminta dengan asa yang berdarah-darah.

Mungkin, kita telah sampai pada waktunya. Dimana ego tidak lagi bisa menang disatu tempat. Meski nyatanya egoku meronta pada semesta agar menahanmu lebih lama. Pada waktu yang berjalan, kita akan sampai tepat saat dimana kekuatan kita untuk bertahan dipertaruhkan. Resiko kehilangan semakin besar dan keyakinan untuk bertahan semakin melemahkan asa. Kau dan aku memang tidak akan pernah tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kisah kita. Hanya saja, kali ini, biarkan egoku meronta. Meminta pada Tuhan meski kutahu.. kau tidak akan pernah tinggal.

Komentar

Posting Komentar