Papa, Bolehkah Aku Rindu?


Disatu malam, dalam sunyi, sepi, tanpa kegaduhan. Deras rintihan yang sedang memenuhi dada. Rindu, luka yang masih menganga, membalut menjadi satu di dalamnya. Aku pernah berdarah-darah sebab tak mampu mempertahankan segalanya. Kegagalan kedua orangtuaku pernah menampar habis pertahananku. Aku remuk bahkan tak bersisa dibuatnya. Kenyataan yang harus kuterima bahwa aku tidak lagi utuh oleh mereka. Aku akan menjadi berbeda, dengan segala bentuk luka yang siap atau tidak harus kutanggung dengan lapang dada.

Saat itu, ingin rasanya kuhabisi diriku hanya agar aku tak harus menanggung semuanya. Ada getir luka yang terus menganga tanpa tau bagaimana cara mengobatinya. Kenyataan didepan mata bahwa aku akan kehilangan satu dari mereka. Bagaimana jika nanti aku harus lumpuh sebelah raga? Ingin sekali menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Memberontak pada semesta, mengapa harus aku yang menanggung semuanya jika ada lebih dari ratusan juta manusia di dunia? Lalu mengapa?. Namun, siapalah aku yang berteriak menentang Tuhan? MenyalahkanNya atas apa yang menimpaku. Terduduk bersimpuh sujud dengan luka yang memerah dalam dada. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas hancurnya segala cinta dalam rumah?

Aku, hampir hilang warasku menanggung yang tak sanggup kutanggung. Adik adikku, yang hari itu kupeluk dengan sepenuh jiwa. Meratapi kehilangan yang malang. Sungguh, kematian tidak lebih kejam dari kehidupan yang terlanjur asing. Kami harus berpindah untuk memulai kehidupan baru dengan sebelah sayap. Sedang sebelahnya, patah dimakan usang. Bagaimana rasanya, kau tanya? Tentu saja, tidak satupun manusia normal memahami bahwa tidak ada patah yang lebih bernanah dari kau harus merelakan sebelah dari sayapmu untuk terbang dipatahkan begitu saja. Bagaimana rindu nantinya hanya akan sekedar rindu, tanpa menemui temu.

Malam ini, dengan luka yang masih sama. Rindu itu menjalar dalam relung jiwa. Aku rindu kau, Pa. Pria yang tak sedikitpun mencari bahkan menanyakan kabarku selepas perpisahan itu ada. Ingin rasanya berbaring pada dadanya, menceritakan seberapa menyakitkan hidupku saat kehilangannya. Tidak ada pria yang kucinta melebihi dia. Sama seperti anak perempuan pada umumnya. Aku hanya rindu saja, meski tau tidak akan  pernah ada temu diantara kita. Ketuk palu pengadilan agama telah memutus segalanya termasuk aliran darah dalam tubuhku olehnya. Sungguh, menyaksikan mereka dengan bangga memperkenalkan ayahnya, merajut asa bersama, menari dibawah rintik hujan dengan tawa. Aku tetaplah anak perempuan yang merasa kehilangan. Bahkan saat tidak ada satupun pria yang bersedia memahami inginku. Pah.. Bolehkah aku rindu? Malam ini saja. Tidak perlu temu, hadir saja dalam tidurku. Duduklah disana barang sebentar, hapus segala luka yang masih menganga. Setidaknya rinduku tak harus berlalu sia-sia. Sesekali pulanglah padaku, putri kecilmu yang selalu rindu.


Komentar

  1. Sekali lagi. Kematian tidak lebih kejam dari kehidupan yang terlanjur asing.

    Dan selamanya, kata semoga yang lupa justru akan membuat segalanya cepat sirna.

    BalasHapus

Posting Komentar