Perempuan Dalam Versi Terbaik


Di zaman yang cenderung bersifat milenial ini seringkali saya mendengar perihal kata “Terbaik” dalam setiap perbincangan atau penilaian beberapa orang pada satu figure. Saya selalu berfikir bagaimana sekelompok orang bisa menyimpulkan bahwa seseorang itu baik sedang kita sendiri tidak pernah tau dosa seperti apa yang ia simpan rapat-rapat. Terutama dalam diri seorang perempuan. Sebagian dari diri perempuan adalah hal yang haus akan penilaian orang lain, terlebih berupa pujian. Saya sendiri sebagai perempuan tidak bisa memungkiri itu. Mendapatkan penilaian cantik, baik, sholihah, dan beberapa pujian seakan membuat kaum dari ibu hawa ini merasa mereka dalam versi terbaik dari yang lainnya. Sedang kita juga bagian dari manusia biasa bukan? Yang lantas tidak pernah menyentuh dosa sekalipun.

Jujur saja, semakin hari manusia semakin tidak beradab menurut saya. Penilaian orang lain yang ntah berdasar pada apa menjadi patokan diri perihal baik atau buruknya seseorang. Yang lebih tidak bisa saya logika adalah semakin cerdas era teknologi semakin bodoh generasinya dalam menilai orang lain. Saya selalu miris melihat sekelompok orang menilai orang lain berdasar pada apa yang mereka yakini. Tak jarang sebab 1 orang membenci orang lain, mereka lantas menyimpulkan bahwa orang tersebut bukan termasuk orang baik lalu terbawa untuk membencinya. Sedang bagi saya, kita tidak bisa menilai orang lain berdasar hanya pada 1 segi perspektif saja. Ada banyak hal yang kita perlu tau bahwa untuk menilai seseorang, kita perlu mengoreksi diri dengan pertanyaan “Layakkah diri kita yang masih berdosa ini menilai suci dan dosa dari orang lain?”

Banyak sekali perempuan yang berlomba-lomba memperbaiki diri, seolah mereka di keadaan baru terlahir ke bumi dalam keadaan suci. Saya merasa iri dengan mereka yang mampu beristiqomah dengan hal yang saya sendiri masih belajar untuk itu. Namun, ada hal menyedihkan yang selalu mengiris relung hati saya. Beberapa dari mereka berdiri penuh cahaya, menampung banyak pujian, berbangga diri seolah mereka sedang dalam versi terbaik sebagai seorang perempuan. Mereka lupa bahwa sebaik-baiknya perempuan sholihah adalah dia yang tidak pernah merasa dirinya sholihah. Memandang orang lain dengan tatapan kejih, bahkan untuk menoleh saja enggan. Saya sebagai perempuan merasa banyak ketidakadilan dalam penilaian terbaik pada diri seorang perempuan. Menurut saya pribadi, kita tidak bisa menilai seseorang dari bagaimana caranya berpakaian, bagaimana hubungannya dengan Tuhan, atau bahkan dari apa yang tampak pada penglihatan. Sebab seorang perempuan pasti memiliki hasrat dalam diri mereka untuk menampakkan versi terbaik darinya pada dunia. Saya pun begitu. Namun bagi saya, seseorang bisa dinilai mereka dalam versi terbaik dari bagaimana caranya bersikap dan memperlakukan orang lain. Bukankah demikian seharusnya?

Perempuan memang sosok terbaik yang Tuhan ciptakan dari tulang rusuk adam untuk menjadi pelengkap dalam diri seorang pria. Menjadi bidadari bagi imamnya kelak, pun menjadi malaikat bagi keturunannya. Setiap perempuan pasti memiliki versi terbaik darinya. Tidak perduli bagaimana penampilannya, sebanyak apa dosanya, ia tetap seorang perempuan terbaik bagi dirinya juga orang-orang yang mencintainya. Saya fikir, penilaian diluar itu bukan lagi kuasa kita sebagai orang lain. Setiap yang suci memiliki masa lalu, dan setiap pendosa memiliki masa depan. Kita tidak berhak menghakimi orang lain, sekalipun dia seorang pelacur. Kita tidak pernah tau mengapa ia harus mengambil jalan demikian. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mempertegas kembali, sekali lagi, kita tidak berhak menilai orang lain. Bahkan dari apa yang pembenci katakan, pun dari apa yang nampak pada penglihatan. Ada banyak sisi yang harus dipertimbangkan dalam menilai orang lain. Dan cukuplah kita sebagai perempuan berusaha menjadi sebaik-baiknya seorang perempuan dalam versi terbaik menurut diri kita masing-masing. Penilaian hanya akan menjadikan kita lupa bagaimana cara menghargai orang lain. Semoga kita tetap pada kodratnya sebagai perempuan. Dengan saling menghargai dan tidak menghiraukan apapun penilaian orang lain terhadap diri kita.

Komentar