Terimakasih Mas Alfian


Mas, terimakasih.. Terimakasih telah hadir dan menjadi pelangi penderma hujanku. Menjadi satu-satunya yang selalu ingin memenangkanku. Yang tetap keras kepala mengalahkan egoku. Jadilah hangat dan menyenangkan. Yang selalu manis meski aku menyebalkan.

Jadilah sabar yang menenangkan. Teduh yang mendamaikan. Cinta yang memuliakan. Juga jadilah kamu pria yang kepala batu. Yang bagaimanapun, kau hanya mau aku. Buat seluruh dunia cemburu padamu sebab kau memiliki seluruh bagian dari diriku.

Tetaplah disampingku dengan segala kekurangan juga kekeliruanku. Maafkan apapun yang melelahkanmu. Buat semua perempuan membenciku karena ingin memilikimu. Dunia harus tau bahwa kau layak diperjuangkan. Sebab kau memang sepantas itu dicintai tanpa panjang penjelasan.

Kau tau, mas, seberuntung itu aku akhirnya dimiliki olehmu. Atas luka dan cacatku yang kau rawat. Juga lemah dan rapuhku yang kau jadikan kuat. Lantas apalagi yang tidak kusyukuri saat Tuhan telah memberiku kamu? Rumah yang bagaimana lagi yang harus kusinggahi saat kini kamu, rumahku, yang selalu teduh memelukku?

Mas, datanglah padaku saat tak ada satupun yang bersedia mendengar gundahmu. Jadikan peluk ku satu-satunya tempat yang kau inginkan saat gusar di dadamu tak mampu kau tahan. Biar aku duduk disampingmu, mendengar segala resah, meretas asa, hingga kau merasa baik-baik saja. Sama seperti saat kau menemukanku lalu menyembuhkan luka-lukaku.

Biarkan aku menjadi satu-satunya yang melihat bagaimana kacaumu. Agar hanya aku yang mengerti dirimu. Lepaskan segala kekecewaanmu dalam pundakku. Agar dunia tetap melihatmu sebagai hati yang tak pernah kecewa. Agar dunia mengingatmu sebagai pria yang sempurna, tanpa luka.

Namun, terlepas dari semua itu..
Mas.. Terimakasih..
Terimakasih karena telah menemukanku. Terimakasih telah menjadi satu-satunya yang mencintai cacat dan rapuhku. Terimakasih karena tidak pernah lelah menopangku. Terimakasih, karena perempuan itu adalah aku.

Komentar