Kisah Tentang Rumah, Sepi dan Segala Mimpi


Bercerita perihal bagaimana rumah menyuguhkan kebahagiaan. Aku selalu tersenyum melihat orang lain pulang dengan asa yang terkumpul. Dengan binar kebahagiaan pada tatapannya. Berharap akan bertemu orang-orang terkasih dan berbagi kebahagiaan bersama. Turut tersentuh rasanya. Hal sederhana yang hanya ada dalam imajiku hingga hari ini. Kehangatan yang bahkan tidak pernah menyentuh jiwaku sedikitpun. Cerita tentang bagaimana hariku hanya akan menjadi milikku sendiri. Senaif itu hidup yang sedang kujalani.

Aku selalu sedih setiap menjelang pulang dan bertemu rumahku yang malang. Menatap pintu rumahku yang usang termakan gelap. Sepi dan kesepian. Hanya itu temanku berbagi. Jauh sebelum hari ini, rumahku lebih menyeramkan dari hutan belantara. Mendengar pertikaian setiap hari, cacian, tidak saling bertegur sapa, hingga perginya salah 1 dari kokohnya rumah. Berbagai macam kekerasan akhirnya melumpuhkan segalaku. Hingga hari ini aku tidak pernah lupa pada apa yang menyebabkan sepiku terasa begitu menakutkan.

Pulangku seringkali menghasilkan pilu. Bagaimana tidak, aku bahkan tidak memiliki sepasang telinga hanya untuk sekedar mendengarkan keluh. Seburuk apapun hari yang kulewati tak hayal akan berlalu begitu saja. Bagaimana aku akan merindukan sesuatu yang mereka sebut rumah? Apa yang harus kupertahankan dari sebuah pulang jika yang ingin kutemui terlalu sibuk berlalu lalang?

Pun perihal mimpi. Aku menyadari bahwa jalan hidupku tidak seberuntung anak-anak diluar sana. Aku tidak cukup berani menggantungkan mimpi di angkasa seperti mereka. Sebab kutau, sayapku patah sebelahnya. Aku hanya memiliki 1 sayap untuk tetap terbang. Hanya sebelah untuk tetap bertahan. Tentu saja tidak mudah. Tak jarang aku ingin menjadi seperti mereka. Dibalut oleh kasih sayang yang utuh, juga cinta yang tidak pernah runtuh.

Meski begitu, aku mencintai hidupku. Aku mensyukuri segala hal yang Tuhan beri untukku. Garis hidup juga reruntuhan asa yang hingga hari ini tetap kurajut hingga utuh. Aku bahagia meski sepi pernah hampir membunuhku. Aku tetap tertawa meski ketika gelap tiba airmataku seringkali jatuh tak terbendung. Tidak mudah memang, namun aku percaya bahwa garis hidup yang sedang kujalani tak lepas dari takdir sang kuasa. Tuhan menjadikan kakiku kokoh melebihi anak-anak diluar sana. Aku bersyukur meski hidupku tak seindah nyanyian semesta.

Komentar