Sebab Kau Telah Jauh Kutinggalkan


Tepat setahun yang lalu kiranya, kisah kita kuhentikan hanya sampai pada batas ini. Dengan segala keberanian juga hati yang saat itu sanggup atau tidak harus kukatakan apa yang sebenarnya terjadi. “Kau tega, kau sedang berkhianat dengan siapa?, kau meninggalkanku untuk pria yang mana?” tuduhmu. Kau bahkan tidak memberikanku sedetik saja waktu untuk menjelaskan mengapa aku harus meniadakanmu hanya sampai disini. Jika kau fikir aku adalah tega yang mematahkanmu tanpa kira, bagaimana dengan lukaku sebelumnya? Lalu, apakah sedikit saja pernah terlintas dalam benakmu mengapa aku pergi saat kau sedang cinta-cintanya?

Aku tidak pernah dengan sengaja mematahkan puing-puing rasa yang kau bangun dengan susah payah. Aku tidak pernah ingin melihat kacaumu sebab aku yang tak lagi bisa menyatukan asa. “Seharusnya masalah demi masalah yang terjadi adalah ujian yang harus kita hadapi bersama”, begitu katamu bukan? Lantas, kau kemana saat ujian menerpa kisah kita? Dimana kau saat badai menghantam tubuhku hingga luka? Inikah yang kau sebut “hadapi bersama”? Sedang hingga akhir, akulah benteng yang harus melindungimu dari mereka. Aku wanita dan kau pria, mana yang harus kubenarkan perihal melindungi yang seharusnya?

“Kau seharusnya berjuang bersamaku, jangan meninggalkanku seperti pecundang” kau masih saja berkata demikian? Apakah kau lupa, aku pernah hampir saja kehilangan kasih sayang ibuku sebab kau memaksa kehendakmu untuk tetap bersamaku? Setiap kali amarahmu memuncah, setiap itu pula aku menjadi satu-satunya tempat untukmu melampiaskan api yang ada. Dan setiap kali kau merasa bosan, kau pun dengan seenaknya meninggalkanku tanpa aba-aba. Jika kau fikir aku pecundang yang pada akhirnya memilih untuk pergi, adakah yang lebih sanggup dariku bertahan dengan ego dan segala tenpramental yang ada dikepalamu?

Aku pergi, namun aku masih bersedia untuk tetap baik-baik saja denganmu. Aku yang pada akhirnya memilih bersama dengan orang lain sebab aku butuh dilindungi bukan melindungi. Dan kau masih saja betah menuduhku dengan tuduhan yang lebih kejih dari seorang pembunuh. Sebab kau masih cinta bukan? Kau merasa hidupmu tidak lebih baik saat kutemani dahulu? Begitu?

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Rasaku pun padamu perlahan memudar sejak orang yang bersamaku hari ini menjadi sumber terbesar dari rasa bersyukurku pada Tuhan. Aku tidak pernah menyesal meski bersamamu menjadi cerita singkat yang paling sakit dalam hidupku. Kau ada sebab Tuhan ingin menjadikan cerita yang membuatku mampu belajar darinya. Dan doaku, semoga kau tetap baik-baik saja. Meski hingga hari ini kau tak pernah sanggup berdamai dengan kenyataan yang ada. Terimakasih telah hadir dan menjadi sebagaimana mestinya. Maaf jika pergiku menghasilkan luka yang terus menganga. Mari terus berjalan sesuai dengan takdir yang Tuhan gariskan. Dan sekali lagi, maaf, sebab kau telah jauh kutinggalkan.

Komentar