Sudah berapa lama kutanya
padamu perihal perjalanan kita, jawabmu dengan mudah, belum selama kisahku
dengan dia. Adakah darimu tahu bahwa disetapak perjalanan kita tidak pernah
mudah? Jawabmu lagi, aku paham. Lalu bagaimana? Layakkah kutanya padamu perihal
hasil akhir? Kau jawab kembali, aku belum berjuang. Apa lagi yang harus kita
perjuangkan dari ketidakmungkinan yang sulit kupahami ini? Sepanjang apa lagi
waktu yang harus kusediakan untuk sebuah perjuangan¾katamu¾yang tak kutahu bagaimana akhirnya?
Aku bukan lilin yang rela
meleleh hanya untuk menerangi gelap seseorang. Aku tidak setabah perempuan
dalam novel-novel cinta. Pun aku tidak setangguh wanita dizaman Khadijah. Aku manusia
biasa, aku seorang anak perempuan, aku adalah perangkai kata yang terbata-bata
dalam berkata. Yang hingga hari ini terus membungkus luka dalam bentuk kata.
Kau tau? Dibalik lorong-lorong
gelap yang kita lalui, ada aku yang berusaha membungkus ketakutan. Menanam kekuatan
pada diri yang telah hancur berantakan. Juga menjagamu disepanjang kegelapan. Dengan
harap agar kisah kita dalam genggaman semesta. Disampaikannya ke langit. Didengar
oleh Sang Kuasa. Betapa yang tumbuh dalam dadaku bukan sekedar rasa. Namun, aku
masihlah segenggam ragu yang takut memastikan tujuan. Kita terlalu samar
menembus asa. Atau kita yang terlalu memaksa bersama hingga terluka.
Disebalik gelap, kuhadirkan
airmata untuk membuka ketakutan yang kubungkus seharian. Sesekali aku ingin kau
membenciku. Melihatku penuh kemunafikan hingga kau bahkan tak ingin memalingkan
wajah padaku. Kau harus tau mengapa aku ingin demikian. Kau harus paham mengapa
ini kulakukan. Sebab semakin dalam yang tumbuh dalam dada, semakin besar pula
ketakutan yang menghantui isi kepala. Kita tidak pernah tau apa yang sedang
semesta rencakan kedepan. Aku hanya belum siap jika kau hilang. Atau tidak akan
pernah siap bahkan. Kau mungkin sudah bersenyawa dalam aku, menetap disana,
meski tidak bisa kupungkiri, aku masihlah sebungkus ketakutan disebalik gelap.
Komentar
Posting Komentar