Untuk Yang Bernama Kembali


Setelah sekian lama berkelana tah kemana, kau mendadak datang kembali. Tanpa rasa, tanpa iba, kau datang menanyakan secercah harapan yang pernah kubangun agar kau menatapku sekali lagi. Kau lupa pada detik yang terus berjalan? Kau lupa pada harapan yang bisa saja mati oleh kenyataan? Kau lupa atau sengaja melupa? Aku tidak lagi ingin berbincang perihal betapa kau pernah merampas seluruh dari mimpi yang kubangun dengan asa. Kau kembali demi segenggam mimpi kita, katamu. Kau fikir mimpi kita sesederhana ketika kau bersamanya? Ketika kau memilih untuk menggenggam jemarinya dan meninggalkanku tanpa rasa bersalah.

Tidak sesederhana itu. Tidak akan pernah sederhana menjadi kata. Kau pada akhirnya terlanjur asing bagiku yang telah lama mati dengan rasa yang pernah kita aminkan bersama. Pergimu pernah menjadi tamparan. Namun luka itu menguatkan. Kukumpulkan sisa-sisa asa yang berceceran setelah penghianatan. Jika kau fikir itu mudah, lalu mengapa kau datang setelah penghianatan itu juga menamparmu? Dengan seenaknya kau datang padaku memohon atas rasa yang dulu menggebu. Apa kau lupa jika aku juga manusia? Hati yang kau pertanyakan kembali itu telah lama mati setelah kutelan pahitnya penghianatan yang kejih.

Kau tidak pernah ada saat kuminta kembali. Kau menghilang bak ditelan bumi saat kususuri kenangan demi kenangan setiap malam melintasi. Kuangkat dagu tinggi-tinggi, kukatakan pada diri “AKU SANGGUP MELEWATI INI”. Namun bayangan wajahmu seolah hadir menolak dilupa olehku yang berdarah-darah setiap hari. Ini terjadi tidak sekali. Berkali kali, setiap kucoba membangun asaku kembali. Lantas, setelah kulewati segala yang menyakiti, kau datang meminta belas kasihan atas kau yang membuatku pernah hampir mati?

Kumaafkan segala sisi gelap yang kau miliki. Atas luka-luka yang belum sembuh hingga hari ini. Segala hal yang masih bisa kumaklumi. Namun untuk yang satu ini, bernama kembali. Maaf, kau tidak layak atas hatiku lagi. Pergilah dengan penghianatan yang kau pilih. Aku yang mencintaimu dengan sungguh telah mati. Sudah tak sudi. Meski tidak kupungkiri, kau mungkin masih hidup dalam hati.

Komentar