Pernah
kutulis, bahkan menjadi yang selalu kutanam dalam diri perihal bagaimana
caranya agar tetap merasa cukup dengan apapun yang telah dimiliki. Sebab bisa
jadi apa yang kita miliki adalah hal yang mungkin saja diimpikan oleh orang
lain. Namun, seringkali apa yang diusahakan tidak lantas membuat kita
benar-benar merasa cukup. Kusadari bahwa kendati aku mencukupkan diri, ternyata
jiwaku masih saja manusiawi. Aku belum sepenuhnya menerima atas diri, atas
segala hal yang terkadang tidak sesuai dengan yang kuingini.
Aku,
mungkin saja terbentuk dari sebongkok kecewa yang diikhlaskan begitu saja. Beberapa
hal yang menjadi harapan seringkali berakhir sia-sia. Aku memang tidak bisa memaksa
siapa saja untuk memenuhi segalanya. Pun tidak bisa menggantungkan harap pada
mereka yang kucinta. Pepatah pernah mengatakan bahwa “Yang berpeluang besar menyakiti
adalah yang mati-matian kau cintai”. Dan ternyata memang benar adanya. Beberapa
atau bahkan semua. Namun kembali lagi, aku bisa apa?
Memang,
hidup tidak selalu perihal mereka yang menyenangkan. Hal-hal diluar itu
seringkali menjadi pengingat bahwa apa yang sedang kita jalani sepenuhnya bukan
tanggung jawab mereka. Diri kita lah penanggung jawab terbesar dari segala
bentuk mimpi juga kebahagiaan nantinya. Semakin tinggi meletakkan harap pada
sesiapa, semakin besar pula kesempatan mereka menghancurkan segalanya. Inilah hidup.
Dan inilah kehidupan. Kenyataan yang harus diterima perihal kita yang saling mengecewakan.
Benar
saja jika kata cukup memang bukan semata kata yang akan melegakan. Selalu saja
terbesit penolakan perihal “mengapa demikian?”. Akan tetapi, manusia bisa apa
perkara penolakan? Tuhan tetaplah hakim tertinggi yang menguasai semesta alam. Dan
manusia hanya pemeran yang akan tetap mengusahakan segalanya. Meski tak seluruh
yang diusahakan lantas terbayar dengan apa yang diharapkan.
Cukup,
memang tidak akan pernah menjadi sesederhana kata cukup. Selagi kita masih menjadi
manusia, kita tidak akan terpenuhi oleh segala yang diingini. Kecewa adalah
hasil akhir dari harapan yang dibangun lalu diletakkan pada pundak manusia
lainnya. Begitulah kenyataan. Kehidupan dari segala makhluk yang sedang memainkan
perannya. Barangkali memang tidak perlu berbaik sangka terlalu baik pada
manusia. Tuhan menjadi tempat sebaik-baiknya harapan itu ada. Yaa.. inilah
dunia yang penuh dengan kecewa pada pundak manusianya. Ternyata cukup saja
tidak akan pernah menjadi sekedar cukup bagi kita yang tak pandai mengikhlaskan
kecewa.
Komentar
Posting Komentar