Rumah Paling Egois


Kamu adalah pencemburu paling ulung, katamu. Iya, aku mencemburui segala yang kau lakukan seorang diri. Pekerjaan, waktu senggang, hingga lelapmu yang tak bisa kutemani. Aku seringkali menyepi hanya untuk merenungi “seberapa berguna aku bisa menemani”. Kau tau, menjadi sebentuk aku dengan jutaan kekhawatiran padamu adalah hal yang cukup menyiksa relung hati. Tak jarang airmata turut menjadi kawan berbagi pilu. Ngilu rasanya. Namun kutau, kau tidak diciptakan untuk bersamaku saja. Bukan untuk menemaniku saja.

Kamu adalah egois paling sadis, katamu. Kujawab lagi, iya. Aku bahkan tidak mampu mengalahkannya. Ia hebat, kuat, seperti memegang kendali atasku. Egoku seringkali menang disatu tempat. Dimana kau hanya diizinkan semesta untuk melakukan apapun bersamaku. Seolah waktu begitu berharga hingga sedetikpun tak bisa kulewatkan begitu saja. Sadis bukan?

Aku seolah mati rasa oleh kehidupan. Kau yang sejatinya tak bisa kumiliki seutuhnya seringkali menutup mata hingga membuatku merasa kau hanya boleh hidup untukku, bukan yang lainnya. Kemanapun, sejauh apapun, asal aku ikut. Sepertinya kalimat itu paling pas untuk menggambarkan apa yang kurasa. Juga kufikir terlalu egois jika kau bahkan tak memiliki sedetik saja waktu untuk duniamu tanpaku. Namun, kau harus tau, ada pilu yang tak bisa kusampaikan setiap kali lelahmu hanya bisa kau bagi dalam secarik tulisan yang kau genggam. Sedang aku tak mampu menjadi apa apa, sebab tubuhku yang terlalu jauh untuk bisa kau rengkuh.

Aku selalu ingin menjadi rumahmu. Tempatmu berpulang paling teduh. Melepas segala lelah untuk menyusun kembali puing-puing asa. Sekalipun aku adalah rumahmu yang paling egois. Memaksamu harus pulang hanya padaku saja. Sebab tidak ada kekhawatiran yang melebihi apa yang tumbuh didadaku saat kau bahkan hanya bisa kusentuh dalam angan. Kau tak akan paham, pun kau tak akan tau bagaimana dadaku menumpuk segalanya. Kau terlalu ringkih bagiku yang jauh lebih ringkih. Kau terlalu hebat bagiku yang tak bisa bersepakat. Aku adalah perempuan yang selalu ingin kau jadikan rumah, memelukmu sebelum lelap, membuatmu agar tak terjaga. Meski tak jarang rumah yang ingin kau jadikan tempat berpulang terlalu egois menjagamu melebihi semesta alam.

Komentar