Hidup
ini memang perihal manusia dan segala rasanya. Atas dosa, khilaf, juga
ketidaksengajaan menyakiti yang lainnya. Seringkali kita lalai bahwa manusia
lain pun hidup dengan rasa yang sama. Saat terluka, bisa jadi ada yang menangis
sejadinya, ada pula yang diam seribu bahasa. Setiap manusia pandai dalam
berekspresi untuk menunjukkan seberapa hebat yang dirasa. Namun, pernahkah
terpikir dalam benak kita perihal bagaimana ia bisa memaafkan segala yang
melukainya?
Tentu,
tidak semua manusia tabah dihantam luka berulang kali. Beberapa mampu memaklumi
satu persatu khilaf orang lain atas dirinya. Namun, akankah maklum menjadi hal yang
seterusnya bisa dipertanggungjawabkan? Sama seperti perihal sabar dan segala
rasa dalam hati manusia. Ada yang bilang “sabar itu tak berbatas”. Nyatanya kita
seringkali ada dalam tekanan kata “tak berbatas”. Seperti tercekik, ingin
meluapkan sesuatu, namun tertahan. Tidak selalu memaklumi adalah jalan terbaik yang
harus ditempuh agar orang lain merasa apa yang dilakukannya masih dalam batas
wajar. Jika orang lain memiliki rasa, bagaimana dengan kita?
Maklum
dan sabar adalah hal besar yang tidak semua manusia berhasil melampaui
batasnya. Mengingat bahwa segalanya pasti berbatas. Maksud hati memaklumi agar
tetap baik-baik saja, namun bagaimana dengan sesuatu yang tercekat lalu perlahan
bisa membunuh diri kita sendiri? Akankah kita tidak berhak berekspresi atas
luka yang disebabkan oleh orang lain? Hanya agar dia bertanggungjawab, meski
nyatanya luka tidak sekejap membaik setelah maaf menjadi obatnya.
Tidak
semua manusia bertahan dengan memaklumi kesalahan orang lain. Ada yang tetap
sanggup memaklumi lalu memaafkan, ada yang memilih pergi dan membenci, ada pula
yang memaafkan meski pada akhirnya meninggalkan menjadi pilihan. Semua tergantung
dari kuatnya masing-masing. Meski begitu, berusaha untuk tidak menyakiti hati
yang lain menjadi pilihan terbaik. Mengingat setiap yang bernyawa pasti punya
rasa. Pun juga maklum dan maaf yang tidak sepenuhnya mengobati sesuatu yang
terlanjur menjadi luka.
Komentar
Posting Komentar